070 - ADA BANYAK KENANGAN

107 27 0
                                    

Udelia kembali menggendong Raka. Bocah itu sangat anteng. Berbeda dengan sang kakak yang langsung menangis bila disentuh orang asing.

Udelia menimang-nimang Raka sambil mencicipi hidangan di meja. Selalu saja makanan keraton membuat lidahnya puas.

"Tumben diem?" lontar Udelia. Hayan hanya diam memperhatikannya. Tidak seperti biasanya yang terus saja bercerita.

"Aku bingung. Apa pantas bertanya?" kata Hayan dengan wajah bingung yang amat mirip dengan Rama. Bedanya hanya besar tubuh mereka.

"Tidak ada yang harus dibingungkan."

"Jadi, setelah rumah Ekadanta, sekarang Maharaniku tinggal di rumah Mada?"

Udelia menatap manik mata Hayan. Pria itu masih saja cemburu padahal sudah punya banyak wanita.

"Begitulah," jawab Udelia mengendikan bahunya. Tidak ada tujuan untuknya. Keraton bukan tempat yang menyenangkan. Rumah Ekadanta sudah tidak mungkin dia datangi.

"Aku bukan Maharani," korreksi Udelia.

"Ingin jadi Maharani lagi?" tawar Hayan ringan. Seolah bisa mengubah aturan jika Maharani hanya ada satu.

"Keraton yang kosong terasa dingin dan keraton yang penuh terasa sesak. Aku tidak cocok. Padahal sudah kamu tahu, sebelum memaksaku."

"Lalu kamu akan menikah lagi dengan Mahapatih?"

"Tidak. Aku akan kembali." 

Hayan tertegun. Maharaninya pulang adalah sebuah kenestapaan. Tidak ingin Maharaninya kembali pergi, tapi tidak mungkin juga Maharaninya mau bersamanya.

Haruskah dia menjadi seperti Djahan? Berlapang dada melihat Udelia bersama pria lain untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya.

Jika Hayan meminta Udelia untuk tetap tinggal, wanita itu pasti akan tetap memilih bersama dengan Djahan.

Udelia beranjak duduk di sebelah Hayan, memandangi wajah Hayan yang semakin matang. Tatapan penuh makna. Berharap inginnya dikabulkan.

"Maharaja, bisakah aku memiliki ini?" pinta Udelia memegang gantungan di ujung keris Hayan.

Hayan mengikuti arah pandang Udelia. Teringat pada malam penyiksaan sang penyelamat putrinya, Udelia terus mencoba menggapainya. Dia dan yang lain mengira wanita itu hendak menyerang. Namun ternyata tujuannya adalah benar gantungan di keris Hayan.

Hayan dan yang lain sengaja menjatuhkan gantungan yang mirip. Mereka penasaran dengan alasan si tahanan meraih gantungan kerisnya. Dan rasa penasarn itu membuat mereka menyesal. Menyeret mereka dalam lubang penyesalan.

Terbesit ide menyenangkan dalam benak Hayan. Dia menatap lekat Udelia sebelum menjawab permintaan wanita itu.

"Kalau kamu mau menghabiskan malam denganku," bisik Hayan.

"Aku serendah itu?" Udelia menatap Hayan tak percaya. Dia disamakan dengan wanita penghibur.

"Jangan berucap seperti kita tidak pernah melakukannya." Hayan tersenyum miring.

Udelia harus pulang. Ada ayah dan ibu serta adik-adik yang menunggu kepulangannya. Sepuluh tahun sama seperti tiga bulan. Tiga tahun mungkin saja seperti satu bulan di dunia modern.

Pulang ke dunia modern sambil membawa pecahan kotak yang dibutuhkan Boyo, akan membuatnya mudah untuk pulang pergi antar dua dimensi. Udelia yakin itu.

"Baiklah." Udelia mencoba berpikiran positif. Malam dan pagi sering ia habiskan bersama Hayan saat mereka masih bocah. Mengajari anak itu juga mendengarkan ceritanya sepanjang hari.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang