018 - SELURUH KEPULAUAN BERSATU DALAM GENGGAMANNYA

169 33 0
                                    

Cendana —raja ketujuh dari Kerajaan Ende dan seluruh rakyatnya, bersujud di depan Hayan —Maharaja Bhumi Maja, pemimpin dan pemilik Bhumi Maja, yang berkuasa atas banyak pulau.

Hayan duduk dengan wajah datar. Tidak menyahuti salam dan penghormatan yang diberikan rakyat Kerajaan Ende.

Rakyat Kerajaan Ende tak tahu apa yang direncanakan Hayan dengan mengumpulkan mereka semua dalam satu lapangan yang dijaga sangat ketat.

Ksatria-ksatria Maja berbaris rapi. Para pria gagah nan rupawan itu mengenakan seragam lengkap, berbaris mengitari mereka, seolah bersiap melakukan penjagalan.

Rakyat Kerajaan Ende pun tak tahu mengapa putri kesayangan mereka, Cendera, berdiri di sisi sang Maharaja.

Di depan sepasang pria dan wanita itu, berdiri seorang pria, yang terkenal paling kuat di antara para petinggi Bhumi Maja. Bahkan dikatakan lebih kuat dari Maharaja.

Dia adalah Djahan Mada, Mahapatih Bhumi Maja.

Djahan berdiri sembari memegang kertas di tangannya. Dia membacakan bait demi bait, yang tertulis di atas kertas dengan tinta perunggu.

"Cendera, putri Cendana telah diambil oleh Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja. Hidupnya kini sudah tak terikat tempat kelahiran."

Pada ujung kalimat yang diucapkan Djahan, sebagian rakyat Ende yang berpendidikan, mulai memahami makna putri mereka berdiri di sisi Maharaja.

Putri mereka dijadikan selir.

"Jika Ende ingin bergabung, kami akan menarik seluruh pasukan dan raja Ende akan berubah menjadi Wiyasa Ende, dengan segala hak dan kewajiban sama seperti watek-watek lain."

Bisik-bisik mulai terdengar. Pro dan kontra dilontarkan oleh setiap kepala yang mampu berpikir. Mereka saling mengemukakan pendapat pada kawan yang berdiri di samping mereka.

"Jika tidak ingin, Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja memberikan waktu tiga bulan untuk bersiap di medan perang. Kebijaksanaan adalah hal baik." Djahan mengakhiri kalimatnya.

Cendana mengepalkan tangannya. Dia tidak mau dipermainkan oleh orang lain. Dia bermaksud menolak tawaran Hayan yang merendahkannya.

Namun putrinya yang berdiri di sisi Maharaja, menggeleng dengan tegas. Putrinya nampak sangat jelas, ingin berdiri terus menerus di sisi orang paling mulia itu.

Cendana menghela napas panjang. Putrinya telah menyampaikan, bahwa kekejian yang terjadi di wilayah mereka, bukan berlandaskan perintah Bhumi Maja.

Orang-orang keji itu hanyalah segolongan oknum tak bertanggung jawab.

Tidak berperilaku keji, bukan berarti Bhumi Maja akan berhenti memperluas wilayahnya.

Sumpah Maharaja Bhumi Maja sangat agung. Perluasan wilayah Bhumi Maja akan terus dilangsungkan. Sampai seluruh kepulauan bersatu dalam genggamannya.

Mau tak mau, Cendana hanya bisa bergabung dengan Bhumi Maja. Terlebih putrinya, berdiri sangat dekat di samping Maharaja Bhumi Maja, bagai seorang pendamping.

Raut putrinya sangat cerah. Kendatipun hanya diambil sebagai seorang selir, yang menempati halaman-halaman yang dingin.

Cendana tidak mau mengecewakan putrinya. Tujuan putrinya tampak jelas, berkehendak untuk bersatu dengan Sang Maharaja Bhumi Maja.

Lagipula, menempatkan putrinya di sisi seorang yang besar, pasti memberi dampak besar bagi wilayahnya.

Ada keuntungan besar membiarkan putrinya berdiri di sisi Maharaja. Apalagi bila putrinya dapat melahirkan seorang pangeran. Kedudukan putrinya akan kokoh. Daerahnya pun akan menjadi makmur.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang