Beberapa waktu sebelumnya..
Hayan mengudara di atas awan, melewati pulau-pulau yang membentang luas. Dia bersama kuda sembrani terbang ke arah timur, dari ujung paling barat tempat kekuasaannya.
Kantung mata Hayan tampak besar. Dia memaksakan seluruh kekuatannya, agar sampai tempat tujuan lebih cepat, berkali-kali lipat lebih cepat, dari waktu sebenarnya.
Di bawah langit, di dataran yang meliuk-liuk, ada Djahan sang Mahapatih.
Pria yang menguncir rambutnya cepol ke atas itu menunggangi gajah, dia berjalan jauh di depan Hayan sang Maharaja.
Setiap hentakkan kaki gajah membuat lubang-lubang yang sedikit menjorok ke dalam. Hewan-hewan di sepanjang jalan berhamburan. Termasuk harimau sang raja singa.
Sebelumnya Djahan berada di Trowu, ibu kota Bhumi Maja.
Dia berangkat lebih dahulu begitu menerima pesan dari tuannya, Sang Maharaja, yang memberitakan penculikan Tuan Putri.
Hayan turun ke titik yang telah diberitahukan pada Ekawira, salah satu perwira kepercayaannya yang sedang menaklukkan pulau pulau di Timur yang belum masuk ke dalam kawasannya.
Begitu mendarat di tanah, kuda sembrani yang ditunggangi Hayan seketika kembali ke tempatnya.
Wajah Hayan seputih mayat. Jalannya sedikit sempoyongan akibat memaksakan diri. Dia masih memaksakan diri agar tidak terlihat lemah di depan bawahannya.
Kendatipun hanya bayangan remang yang muncul pada kelopak matanya, dia tidak boleh kehilangan wibawanya.
Aroma menyengat tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.
Hal ini biasanya bukan penghalang bagi dirinya, untuk tetap berdiri tegak dan mengeluarkan intimidasi bagi mereka yang berlaku kurang ajar.
Tapi hari ini, dia benar-benar merasa lemah.
Energinya telah habis akibat perjalanan yang jauh.
Jebakan remeh yang biasanya tidak mempengaruhinya, kini menjadikan dia lemah lunglai tak berdaya.
"Uhuk ... Uhuk ..."
Hayan terbatuk-batuk. Tenggorokannya tercekat dengan bulir-bulir yang tak nampak di udara.
Dia menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat, guna mengurangi aroma yang tidak menyenangkan yang dihirupnya dan guna menghalau bulir-bulir tak kasatmata.
Mata Hayan menyalang. Dia tidak merasakan kehadiran seseorang, sampai orang itu berada tepat di depannya.
"Tuan, saya dikirim tuan muda Sanjaya untuk menjemput Anda," ucap mendayu-dayu seorang wanita bertubuh elok.
Tubuh perempuan itu terbalut kain yang ketat, membentuk tiap lekuk tubuhnya yang menggoda.
Pinggangnya ramping, buah di depan dan di belakang tubuhnya seimbang besarnya, bibirnya merah dan seksi, matanya tajam seolah hendak menjadi seorang pemangsa.
Dialah Nera, keponakan Raja Ende. Dia muncul sembari menunjukkan lencana Ekawira.
Hayan memegang kepalanya yang pening.
Perjalanan dari Watek Lengkasuka yang harusnya menempuh perjalanan selama satu setengah bulan, dengan menaiki kuda sembrani ia singkat menjadi dua hari.
Hayan membuka sela jarinya mengintip orang yang berani menyentuh kepalanya.
Muncul ruam merah pada wajah seputih mayit itu akibat amarah yang bergulung-gulung dalam hatinya. Lancang sekali orang yang memegang tubuhnya yang berharga.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...