057 - PERANGAINYA MENJADI KASAR

139 29 0
                                    

"Ada apa, Mahapatih?" tanya Hayan dengan datar.

Ada rasa kesal dalam hati pria berkulit mulus itu, karena waktu kebersamaannya dengan pujaan hati terganggu.

Namun tentu dia tidak terlalu menampakkan perasaannya, agar sang Mahapatih tidak curiga padanya.

"Laporan Tanjung Nagara, Paduka. Orang-orang dari tengah pulau menculik keluarga para pejabat. Penyihir dan petapa yang ada sulit menjangkau suku-suku itu. Kita harus mengirim darah murni Ekadanta," jelas Djahan.

Hayan memerintahkan Djahan untuk keluar dari rumah tahanan. Mereka belum lagi membahas aduan Ekadanta, karena pekerjaan yang menumpuk.

Pekerjaan begitu menggunung karena Djahan sempat berada di penjara dan karena Hayan sibuk dengan wanitanya.

Tersiar kabar wanita kesayangan Maharaja sedang hamil. Belum ada berita resmi. Namun menilik kesibukan Hayan di ketiak selirnya, Djahan dapat memastikan kebenaran rumor itu.

Djahan berdecak kesal. Hanya demi wanita yang tidak sepadan dengan Maharani, Maharaja sampai meninggalkan sebagian tugasnya.

Djahan memperhatikan Hayan yang berjalan ke mejanya. Jika dia tidak datang ke Bale' Ndamel, ruang kerja Maharaja, mungkin saja Maharaja akan terus ndusel di pelukan selir kesayangannya.

Djahan tidak menyangka, seorang selir mampu mengaruhi kinerja Maharaja. Dia pikir Maharaja hanya terpengaruh dengan istrinya. Ternyata pria itu memang belang dari asalnya.

Tekad Djahan semakin kuat untuk mengambil kembali Udelia dari sisi Candra 

"Situasinya bagaimana?" tanya Hayan.

"Awalnya tidak menyakiti warga setempat, hanya fokus menculik para bangsawan. Namun akhir-akhir ini mereka menakut-nakuti warga, hingga tidak ada aktivitas pada malam hari."

Hayan mangut-mangut mendengarnya.

"Orang-orang dari negeri yang jauh, berangsur-angsur pulang. Mereka takut diculik. Dan ada pula santet-santet yang dikirim secara acak."

Djahan memberikan lembaran-lembaran laporan Tanjung Nagara pada Hayan.

"Kita sudah membiarkan mereka, tidak mengusik mereka, yang ingin hidup damai tanpa pendatang. Mereka malah mengganggu warga kita," kesal Hayan.

Sebagian nama yang ada dalam data orang hilang adalah anggota keluarga orang penting Bhumi Maja. Ini adalah makar, bukan sakadar permainan iseng suku pedalaman. 

"Apa perlu mengirim dukun?" usul Djahan.

Dukun pulau Jawa terkenal dengan ajiannya. Serangan ghaibnya sangat kuat. Santet suku pedalaman Tanjung Nagara pasti mudah dipatahkan.

"Kepala keluarga Ekadanta tidak memungkinkan untuk pergi ..."

Djahan melirik Hayan. Dia merasa sedang disindir.

"Anda pergilah memimpin penyihir yang ada. Selanjutnya kita berkirim surat."

Hayan meletakkan laporan di atas meja. Hilangnya keluarga bangsawan Maja membuatnya kesal. Dia menganggap Bhumi Maja masih lemah. Masih ada yang berani mengusik wilayahnya.

Akan dia adakan pelatihan para pengawal, prajurit, serta ksatria agar Bhumi Maja semakin kuat. Dia tidak terima dengan penghinaan ini.

Raut wajah Hayan mendadak tegang kala dua hewan kontraknya, Modo sang komodo, dan Payang sang penyu payang megirimkan sinyal bahaya.

"Modo dan Payang, apa yang terjadi?" tanya Hayan.

"Ada peyusup," jawab Payang.

Tanpa basa-basi, Hayan memanggil Berani sang kuda sembrani lalu terbang ke langit, rupanya hilang di balik pepohonan nan tinggi. Dia tidak memedulikan Djahan yang memanggil-manggil namanya

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang