064 - DIA AKAN MENCARI TAHU

90 25 0
                                    

"Wanuanya ramai sekali," komentar Udelia.

Orang berlalu lalang tiada habis-habisnya. Pakaian mereka baru dan mengkilap. Para pedagang tak ketinggalan menjajakan barang dagangan mereka.

"Hari ini tahun baru, jadi ada banyak acara. Kebetulan Wanua Mejeng adalah pusat Kademangan Padang," terang Udin.

"Gunung Padang dipenuhi berbagai mistis jadi sepi tidak ada yang tinggal kecuali kami," tambah Udin.

"Kalian penjaga gunung?" tebak Udelia.

"Iya nyonya. Keluarga kami secara turun-temurun menjaga gunung Padang."

"Keluarga?" Udelia menaikkan alisnya. Yang dia tahu hanya ada Udis sebagai keluarga Udin. Dia kira dua kakak beradik itu tingga menepi karena tak sanggup membiayai diri di kota.

"Orang tua kami wafat ketika kami masih bayi. Kakek kami setahun yang lalu meninggalkan kami."

"Turut berduka cita."

"Terima kasih, nyonya," ucap Udin.

Udelia mengulas senyum. Dia merasa kedua orang itu sangat hebat. Hidup tanpa kasih sayang orang tua, namun satu sama lain dekat karena ajaran sang kakek.

Udelia penasaran dengan orang tua dan keluarganya. Meskipun sebatang kara, seharusnya ada cerita tentang keluarganya.

Udelia baru memikirkannya. Udelia mencoba mengingat yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dia tidak terlalu ingat akan semuanya. Ingatannya patah-patah.

Udelia tidak dapat memastikan apakah ada keluarganya yang datang ke pernikahan, atau ke rumah Ekadanta saat dia melahirkan.

Candra mengatakan dia datang dari keluarga baik-baik. Keluarga baik-baik tidak mungkin melupakan anggota keluarganya.

Tetapi Udelia tidak dapat memastikan. Tidak ada gambaran dalam benaknya. Bertanya pada suami pun percuma. Katanya dia dari negeri yang jauh, sulit dijangkau.

Terlintas dalam benak Udelia wajah tampan yang mirip suaminya. Kini dia sudah paham pada siapa harus bertanya hal-hal yang membuatnya penasaran.

"Saya sudah memesankan penginapan terbaik. Silakan diperiksa adakah yang kurang."

Udelia mengangguk ia melihat-lihat suasana sekitar. Bangunannya lebih bersih dari rumah-rumah yang mereka lewati.

Sekitar rumah ditumbuh beberapa pohon yang menjulang. Menambah kesan keamanan akan pandangan dari arah luar.

Udelia akan betah tinggal di sana, bahkan jika bertahun-tahun ke depan. Asalkan aman dan nyaman, tidak terlalu dia pedulikan seberapa luasnya.

"Penginapan ini sudah termasuk dengan bibi yang akan membantu nyonya. Jika ingin berkeliling, kakak saya, Udis bisa membimbing Anda."

"Kalian bisa kembali. Bibi datang pagi dan sore saja," pinta Udelia.

"Baik nyonya."

Udelia duduk di teras memandang orang-orang yang sibuk di luar sana. Udelia agak kesulitan berinteraksi. Banyak warga menggunakan bahasa asing.

Bahasanya terdengar mirip dengan bahasa Maja, namun ternyata memiliki makna berbeda. Seperti saat Udelia hendak membeli ceplik, lampu penerangan sebagai sinar di malam hari, yang diberikan malah segenggam cabe ijo.

Udelia mengarahkan pandangannya pada dua orang dewasa yang baru datang. Udis datang menggendong Rama, di sebelahnya Candra membawa belanjaan. 

"Keluarga yang bahagia," celetuk Udelia.

Saat sampai di Wanua Mejeng, Candra berpisah di tengah jalan untuk membeli banyak barang. Udis menunjukkan jalan untuk suaminya.

Candra tidak banyak komentar, dia tidak mungkin meninggalkan Rama pada istrinya. Meminta Udin menemani, tidak mungkin. Dia tidak mempercayai kekuatan Udis sebagai wanita.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang