Langit di atas menampakkan sinar mentari yang terik. Rombongan Udelia berhenti di satu pantai yang luas.
Orang-orang Kelimutu membangun tenda dan hendak membantu Udelia membangunkan tenda untuknya, tetapi Udelia menolak.
Udelia meletakkan Maya di atas pasir yang panas. Para lelaki saling memandang. Terlalu kejam memanggang manusia di atas pasir pantai, begitu pikir mereka.
Tak ada yang bisa mereka lakukan. Mulut mereka terkunci oleh rasa takut. Mereka duduk manis tak jauh dari dua wanita di tengah pantai yang sepi.
Udelia mengusap peluh di wajah putrinya. Dia membiarkan raga kecil itu terlentang menyerap panas dari atas dan bawah.
Maya menggeliat dalam tidurnya, dia akhirnya terbangun setelah tidur lama dalam perjalanan. Langsung dia rasakan panas mendera di punggungnya.
Kala akan membuka mata, sebuah telapak tangan menutupi kedua mata Maya, lalu terdengar suara merdu yang belakangan terdengar dalam tidurnya.
Suara itu menenangkannya.
"Tetaplah terpejam sampai beberapa saat dan jangan bergerak," titah Udelia dengan mata yang sama-sama terpejam.
"Kalo ngomong?" tanya Maya dengan suara berbisik.
"Boleh."
Maya terdiam. Tidak tahu harus bicara apa. Mulai dari mana. Jantungnya berdebar kencang. Mulutnya kelu untuk bersuara.
Ribuan kata terbesit dalam benaknya, tidak ada satu pun yang mampu meluncur keluar dari mulutnya.
Udelia sama canggungnya dengan Maya. Dia ingin memulai pembicaraan ringan, tapi dia sudah tidak sabar untuk bertanya hal yang berat.
Ada banyak tanya dan cerita yang ingin disampaikan Udelia.
Udelia sedang menahan lisannya supaya berbicara hal yang benar saja.
Ini pertemuan pertama mereka, dia tidak seharusnya menginterogasi putri kecilnya yang terlihat rapuh.
Putrinya baru saja mengalami hal kejam berupa penculikan, dia tidak mau menambah beban dalam hati kecil putrinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berat.
Selang beberapa waktu, hanya terdengar suara angin yang berhembus kencang. Menerbangkan surai-surai hitam legam mereka. Membisikkan suara berdesir dalam telinga mereka.
Saat mulut Udelia terbuka, hendak memulai pembicaraan, Maya terlebih dahulu bersuara, bertanya padanya. Udelia pun kembali menutup mulutnya.
"A-apa ananda harus mengikuti semua keinginan Antar, bu?" tanya Maya memilih topik yang tidak terlalu ringan dan tidak terlalu berat.
Dia tidak mau memilih basa basi yang akan terlihat menyebalkan dan dia tidak mau menyinggung hal berat di pertemuan pertama mereka dalam situasi yang tenang, setelah sebelumnya mereka berjumpa dalam keadaan genting.
Bertanya tentang hal yang baru saja terjadi adalah suatu hal yang dirasa pas bagi Maya untuk dibicarakan dengan ibundanya.
Rindu. Curhat. Akan dia lakukan nanti. Masih ada waktu yang panjang bersama sang ibunda.
Ibundanya akan selalu di sisinya. Maya yakin hal itu.
Maya akan membawa sang ibu kembali ke ibukota, entah kembali bersama ayahandanya atau justru bersama sang ayah.
"Tidak perlu semuanya. Penuhi janji di awal saja, lalu Maya bisa memanggil ular naga itu sesuka hati Maya. Tentu harus kuat dulu, agar makhluk sekuat itu dapat hadir dalam sekejap," jelas Udelia.
"O-oh begitu ya, bu.."
Udelia mengangguk. "Iya."
Maya merekatkan mulutnya, bingung ingin membicarakan apa lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...