"Saya mengganggu waktu Anda lagi," ucap Bayu pada Candra yang duduk rapi di kursi kepala keluarga.
Candra tersenyum formal. Dua kali dalam sehari Bayu datang mengganggunya. Tentu saja dalam hatinya dia sangat kesal.
Kali ini Candra bertindak sebagai kepala keluarga dan Bayu datang sebagai perwakilan keraton, dengan beberapa orang berbaris di belakangnya.
Mereka adalah tabib yang membawa obat dan para abdi ndalem yang membawa surat titah. Mereka melakukan pertemuan yang lebih formal dibanding pertemuan pertama.
"Tidak. Saya mengerti. Silakan."
Candra menunjuk kursi di dekatnya, mempersilakan Bayu untuk duduk menunggu. Bayu pun duduk dengan para bawahan berdiri di belakangnya.
Tak lama kemudian muncul seorang pelayan wanita, menuntun seorang wanita yang berpakaian indah.
Mereka bersimpuh dan menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat kepala mereka. Mata mereka akan hilang bila berani memandang yang tidak boleh dipandang.
"Benar ini orangnya?" tanya Bayu memindai wanita tersebut dari atas ke bawah.
"Anda bisa memeriksanya."
Candra sedikit tegang dengan yang terjadi. Bayu adalah orang yang teliti. Peluang untuk menipunya lumayan sulit.
Apalagi pelayannya mengadukan seluruh percakapan antara istrinya dan kakaknya. Walau tidak mengakui secara gamblang, Candra yakin Bayu sudah mengetahui identitas istrinya.
Bayu adalah orang yang setia. Kemungkinan Bayu tidak mengadu, hampir tidak ada. Candra yakin Bayu telah mengadukan semua temuannya pada tuannya.
Candra akan mengorbankan segalanya, andai terjadi hal di luar kendalinya. Hatinya tak lagi kuasa menahan rindu. Tak ingin lagi berpisah dari cintanya.
Dahulu, dia merasa puas hanya menemani, tanpa sebuah ikatan.
Setelah mendapat hujan cinta dan menyesap madu manis sang istri, Candra akan terus memastikan istrinya hanya menatap dia seorang.
Istrinya adalah miliknya. Istrinya adalah dunianya. Tidak boleh ada orang masuk dalam dunia miliknya.
"Kepala keluarga mengerti dengan cepat." Bayu mengulas senyum.
Bayu dan Candra bersitatap. Dalam diam, mereka saling mengerti. Tanpa rencana, mereka berada pada satu tujuan.
Candra mengangkat tangannya memberi titah, agar sang wanita mengangkat kepalanya.
Angin panas sedikit menerpa. Candra membatalkan sihirnya. Sihir perubah wajah, yang dia persiapkan untuk mengecoh penglihatan Bayu dan para pesuruh.
Tidak ada yang mengetahui, kecuali mereka yang mahir menggunakan sihir.
"Minumlah," ucap Bayu menunjuk mangkuk di tangan abdi ndalem. Isian mangkuk itu adalah racikan obat penggugur kandungan.
Wanita yang memakai pakaian indah itu adalah seorang pelayan dari luar kekuasaan Ekadanta, memiliki kepercayaan tidak boleh memakan segala hal yang menyangkut dengan hewani, membuat kulitnya tampak bersih dan lembut. Dia menghabiskan obat pahit dalam satu kali tenggakan.
Abdi ndalem membuka matanya lebar-lebar, tidak berkedip barang sebentar. Hingga mata mereka tampak kering. Mereka memastikan tidak ada satu tetes obat tersisa di dalam mangkuk.
"Kak, menurutku tidak usah dibawa. Hanya akan menimbulkan kerusuhan di dalam keraton. Keluarga yang lain pasti tidak akan terima," usul Candra.
"Iya. Yang tahu juga berpendapat demikian."

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...