082 - MEMBERIKAN KETENANGAN

122 26 0
                                    

"Yang Mulia, Ratu menemui seseorang di Bale' Kosong," adu seorang prajurit pada Hayan.

Hayan tetap mengelus punggung Udelia, ia gerakkan matanya menyuruh tangan kanannya pergi.

Ia hapus air mata Udelia dengan tangan kosongnya dan mengeringkan wajah Udelia dengan kain dari cincinnya.

"Aku pergi," pamit Hayan membiarkan Udelia menenangkan dirinya dan dia pergi ke bale' kosong. 

Bayangan seseorang yang berdiri di samping Sri Sudewi menghilang, ketika Hayan sampai di depan pintu Bale' Kosong. 

"Apa baginda akhirnya ingat memiliki seorang Ratu?" sindir Sri Sudewi. 

"Jangan berkata seolah kita memiliki hubungan," ucap Hayan dengan sarkas. Hampir tiap kali bermalam di tempat Sri Sudewi, Hayan seperti sedang menjalankan bisnis di malam hari. 

Ada banyak permintaan bisnis yang diajukan Sri Sudewi. Sebagian besarnya adalah bisnis di Sunda Nagara, tempat moyang Sri Sudewi berada. 

"Ya ampun, ikrar pernikahan apakah bukan sebuah hubungan?" 

Sri Sudewi menautkan alisnya. Selir saja memiliki hubungan dengan Maharaja. Masa dia yang punya hubungan resmi, dianggap tidak memiliki hubungan dengan Hayan. 

"Baginda, apa engkau ingin menghabiskan malam bersama hamba? Hamba sangat merindukan engkau."

"Jika kamu bersedia bercerita.." Hayan memegang rambut dan pipi Sri Sudewi. Balasan dari bisnis kecil yang disanggupinya adalah sebuah informasi. 

Mata-mata dari Sunda adalah mata-mata terbaik. Mereka yang merupakan keturunan murni para petapa, tanpa obat dan makanan yang mengandung kekuatan instan buatan para ilmuwan. 

Sangat sulit mendeteksi keberadaan mereka yang sedang menyamar di antara banyak orang. Kekuatan mereka sesuci kekuatan Petapa Agung. 

"Dengan senang hati.." Sri Sudewi memejamkan matanya. Menikmati sentuhan Hayan di wajahnya. Harus dia akui, Hayan adalah pria perkasa.

Hayan dan Sri Sudewi sedikit tersentak kala merasakan sebuah aura hitam yang lewat. 

Bayangan itu adalah Kuriang, putri Sri Sumbi, murid Ekata Ekadanta yang diambil Ekata saat Kuriang berada di titik terendah. 

Mencintai yang tidak seharusnya dicintai, lalu bergabung dengan sekte ilmu hitam untuk merealiasasikan keinginan terlarangnya.

Kemudian Ekata datang. Tadir membawa manusia suci itu padanya. Memberikan nasihat-nasihat yang mengena di hati, tanpa merendahkan dan menyalahkan. 

Tidak lantas cinta Kuring langsung terkikis habis. Namun cintanya tak lagi sebesar gunung. Pelan-pelan dia berusaha menghilangkan rasa cinta terlarang.

Pada bibi kandungnya, adik ibunya. 

Kuriang memegang dadanya. Sesak melihat kedekatan pasangan suami istri yang diakui oleh semua orang. Bukan hubungan terlarang. 

Namun, tak ada lagi perasaan menggebu, hendak menyerang pria yang mendekati cintanya. Ada titik lega melihat senyuman bahagia terlukis di wajah wanita yang dia cintai.  

"Maharani, kalau Anda pegang seperti itu, bayinya akan kesakitan," tegur Gitarja pada Idaline. 

Udelia dalam raga Idaline tergagap. Akibat marahnya, aura besar menguar deras membuat tiap orang lemah gemetar ketakutan. 

"Nampaknya kakimu sudah sembuh. Apa Rakryan Tumenggung lagi lagi menyelamatkanmu?" bisik Gitarja tepat di telinga Udelia. 

Udelia menatap Gitarja dengan wajah kebingungan. Penguasa wanita pertama di Bhumi Maja selalu menyukainya dalam raga Idaline. 

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang