"Udel .... di mana kamu? Udel ..."
Seorang wanita berkonde memanggil dengan berisik. Dia berjingkat-jingkat, berusaha tidak menimbulkan suara yang mencurigakan
Widya datang memenuhi panggilan sahabatnya, kendatipun percakapan mereka hanya lewat adu tatapan.
Pada pergantian jadwal penjaga dini hari, Baja mengganti penjaga sel dengan orang-orangnya. Widya berharap dia tidak terlambat untuk menyelamatkan sahabatnya.
Ingin memaksa adiknya bertindak lebih cepat, tapi ketidaksabaran hanyalah akan menghasilkan akhir yang mengecewakan. Terpaksa Widya membiarkan Udelia bermalam di tempat kumuh itu, sel penjara.
Entah kesalahan apa yang dilakukan sahabatnya, sehingga kendaraan yang membawanya, begitu sempit dan mengerikan.
Meletakkan tahanan ke dalam kandang hewan buruan, bukanlah pertanda sebuah kejahatan yang ringan. Bahkan budak yang dijual, tidak boleh diperlakukan seperti itu. Kendaraan pembawa budak, haruslah muat untuk tempat duduk dan memejamkan mata.
Widya yakin Udelia tidak akan membuat kegaduhan yang besar. Tapi meskipun Udelia melakukan hal yang bertentangan dengan peraturan Bhumi Maja, Widya akan sekuat tenaga membantu sahabatnya melarikan diri dengan selamat.
Udelia adalah temannya. Dia sangat mengerti dirinya. Dia tidak meninggalkan dirinya ketika susah, selalu ingat dirinya ketika mendapat kebahagiaan. Terlebih Udelia sudah berkorban untuk dirinya, menggantikan dirinya menjadi Maharani.
Walau pada awalnya Sang Maharaja hanya menggunakan dirinya, untuk menjebak Udelia —yang kala itu sudah menjadi istri Mahapatih, Udelia telah menyelamatkan Widya dan keluarganya dari tekanan Maharaja.
Maharaja begitu terobsesi dengan istri Mahapatih. Widya tidak menyalahkan pria itu. Sahabatnya memang pantas untuk disandingkan dengan pemimpin besar.
Mentalnya, ilmunya, wawasannya, bahkan sokongannya tidak ada yang dapat menyamai sahabatnya.
Obsesi selalu menempatkan orang dalam keadaan buta. Memaksa Widya dan mengancam keselamatan keluarganya, membuat Widya terpaksa ikut berjalan di alur yang salah.
Widya meminta Udelia untuk menjadi istri Maharaja, tepat ketika sahabatnya itu baru saja mengucap janji suci dengan Mahapatih.
Setiap hari, di malam nan panjang, Widya selalu teringat akan kebodohannya. Dia ingin menebusnya. Hanya pada putri peninggalan sahabatnya, dia menjadi sedikit ringan.
Kini ada jalan baginya untuk memberikan bahagia pada sahabatnya. Memasuki keraton bukanlah hal bagus, apalagi Maharaja sudah memiliki banyak selir.
Widya akan menyelamatkan sahabatnya dari sel penjara dan dari penjara emas bernama keraton. Sekalipun kelak Maharaja membawa Tuan Putri dalam perdebatan mereka, Widya akan melarang tegas sahabatnya untuk masuk ke tempat terkutuk itu.
Masih ada banyak cara untuk menyayangi anak. Tapi tidak ada jalan untuk seorang suami yang tidak setia.
"Udel ada di perutmu, non," sahut salah satu tahanan yang terjaga di pagi buta itu.
"Ada orang cerdas di sini," balas Widya. "Wanita yang masuk kemarin ada di mana?" Widya mendekat ke sel, memperhatikan orang yang berani menjawabnya. Orang itu berjenis kelamin pria, tubuhnya pendek, sekilas mirip seperti anak-anak.
"Kalau maksudnya wanita yang semalaman diinterogasi, ada di sana." Tahanan itu menunjuk ke sel terdepan.
Widya mengernyit. Dia menatap dengan ragu. "Rasanya tidak ada orang ..."
Widya telah melewati sel depan, dia tidak melihat orang di dalamnya, dia juga tidak merasakan aliran energi yang dimiliki setiap tubuh.
Selama hidup di Zaman Keemasan, Widya diajarkan Udelia berbagai keterampilan, terutama dalam mengasah kekuatan.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...