074 - BERSELINGKUH DI DEPAN UMUM

182 28 0
                                    

"Wah tuan Siji dan tuan Loro, Anda berdua datang melihat guru?" sambut seorang pengawal kediaman Mada pada dua orang murid inti tuan mereka, Djahan Mada.

"Tentu saja. Ini tahun baru. Semua merayakan. Kami sudah merayakan dengan keluarga, kini saatnya dengan guru dan adik-adik sekalian."

"Rasanya Anda harus menyiapkan hadiah. Guru membawa nyonya." Si pengawal mulai bergosip.

"Nyonya?" Loro dan Siji saling memandang. Tidak pernah ada nyonya lain, selain orang yang sangat mereka kenali. Orang yang mereka kenali di dunia modern dan di dunia ini.

"Udelia, KAMU DI SINI?" teriak Loro dengan semangat. Seorang putri kecil tertawa gembira di gendongan di lengannya.

"Berhentilah berteriak," omel Udelia sembari keluar dari rumahnya.

"Ya ampuuuun senokku datang!?" seru Loro girang. Dia menurunkan buah hatinya dan buru-buru mendekat pada wanita yang amat dia rindui.

Sebuah lesatan angin melewati Loro. Siji tersenyum menyambut kedatangan wanita yang memeluknya erat.

"Nok, gimana kabarmu?" tanya Siji.

Loro yang telah menurunkan putrinya dan merentangkan tangan menjadi canggung, ketika Udelia berlari ke arah Siji dan memeluknya erat tak kunjung lepas.

Mata-mata membara dari sudut lain tak juga mengalihkan mereka. Udelia dan Siji berpelukan erat dan Loro memandang sendu keduanya, dia tidak dipeluk!

"Mas... mas..." gumam Udelia di pelukan Siji. Dia merasa lega telah berjumpa keduanya. Ada bongkahan batu terangkat dari hatinya.

"Iya, nok. Mas di sini," ucap lembut Siji.

Udelia mengusap ingusnya di selendang Siji membuat pria itu meringis.

"Mas Loro.."

"TIDAAAAAAAAAAAAK!" Loro hanya bisa berteriak dalam hati. Tidak mungkin dia menolak peluka pertama sang sepupu tersayang di pertemuan pertama mereka.

Akhirnya selendang Siji dan Loro menjadi korban.

Mereka menepuk-nepuk pundak Udelia. Mereka tahu, tangis Udelia bukan hanya tangis haru. Ada beban dan sedih dalam tangis Udelia.

Setelah Udelia tenang, mereka duduk di bawah pohon yang rindang dan Udelia menceritakan seluruh kisahnya. Dia ingin mencari jawaban atas rasa galaunya.

"Kamu tidak salah dan anak-anakmu juga tidak salah. Tidakkah di hati terbesit saja rasa berat untuk meninggalkan mereka?" urai Siji mengusap kepala keponakannya yang terus menatap tajam Udelia.

"Mas tahu aku masih kanak-kanak terlebih sangat tidak suka anak-anak, apa aku bisa menjadi ibu yang baik?" tutur Udelia masih tak percaya diri untuk menjadi ibu.

"Tidak suka? Padahal tidak ada di antara kita yang lebih lembut bicaranya dan lebih sabar ketika menjelaskan, selain dirimu," tutur Siji.

Siji tersenyum kecil dengan wajah serius. 

"Kamu hanya merasa bersalah dalam ingatan anak-anak kan?" Mata Siji melunak membayangkan masa kecil adik sepupunya yang menyedihkan. 

"Tidak, mas. Tidak tahu." Udelia menggeleng. Enggan mengingat masa yang menyakitkan.

"Cobalah maafkan dirimu saat itu," usul Siji agar Udelia merasa ringan.

"Aku sangat keterlaluan. Tidak dapat dimaafkan. Dan sangat kasihan anak-anak itu lahir dari rahim yang tak suci."

"Sst," Loro mencubit mulut Udelia.

"Masa lalu itu sangat jauh. Biarlah dia di belakang dan kita berada di bus yang benar. Orang akan bertanya dari mana asalmu, tapi mereka tidak akan benar-benar mencari detail tentangmu," ucap Loro.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang