"Ibu, awas!" teriak Maya sekencang yang dia bisa dan dia lari sekencang yang dia mampu.
Maya berusaha mencapai pinggir danau secepat mungkin. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, untuk menyelamatkan seorang perempuan yang sering kali dia mimpikan.
Kali pertama dia mengetahui keberadaan 'ibu'nya yang sesungguhnya, dia sama sekali tidak bisa tertidur. Dia terus berharap perempuan itu akan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Namun khayal hanya sekedar khayal. Berbulan-bulan setelah dia tahu, tak ada tanda-tanda kehadiran, bahkan keberadaan sang ibu pun tidak pernah ada jejaknya.
Suatu malam dia bermimpi, ibundanya hadir dan meminta maaf karena tidak menemuinya. Meski wajah sang ibu tak jelas dalam ingatannya, hati Maya sangat tentram saat dipeluk dalam mimpi.
Dia tak lagi serakah. Yang dia pinta hanyalah dapat bertemu sang bunda di alam mimpi.
Oleh karenanya, dia lebih banyak makan dan tidur. Makan banyak untuk membuat dirinya mengantuk lantas tertidur untuk meraih mimpinya.
Dia sangat senang dengan alam mimpi. Di sana dia dapat terus menerus bersama sang bunda.
Sekarang ibundanya ada di sini, dia boleh kan meminta lebih?
Dia tidak mau kehilangan ibundanya! Dia ingin merasakan kasih sayang ibundanya tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti kemarin-kemarin.
Setidaknya, dia ingin pelukan yang tulus, setelah ibundanya tahu kalau dirinya tahu perempuan yang dipanggil pahlawan wanita Ende itu adalah ibundanya, ibu yang selalu ditunggunya!
Di belakang perempuan yang telah lama dia dambakan itu, ada sesuatu yang amat mengerikan!
Batu-batu kerikil yang melukai telapak kakinya, tak dia hiraukan. Yang terpenting adalah dia cepat mencapai danau dan menyelamatkan orang yang sudah melahirkannya!
Sungguh dia menyesal sudah berpura-pura tak tahu akan identitas asli dari sang ibunda.
Maya sengaja diam agar sang ibunda bercerita terlebih dahulu.
Dia pun sedikit marah sebab ibundanya terlihat tidak terlalu antusias setelah mengetahui keberadaannya.
Dia tahu ibundanya sudah tahu, menilik dari ekspresi wajahnya ketika Maya muncul dari dalam karung.
Maya seharusnya memahami, mereka sedang berada di tangan para penculik. Ibundanya diam bukan berarti tak sayang, bukan berarti tak rindu, bukan pula berarti tak menginginkannya.
Ibundanya justru melindunginya dengan amat baik.
Pura-pura tak kenal, supaya tak kehilangan kepercayaaan dari para penculik, yang sewaktu-waktu bisa menghilangkan nyawa mereka berdua di kala mereka lengah.
Maya memahami hal itu, tapi sifat kekanakannya tiba-tiba muncul, dan dalam hati dia marah-marah tak jelas.
Maya menyesalkan sikapnya yang dingin pada ibundanya. Dia menolak semua makanan yang dibuatkan ibundanya. Dia kekeh ingin makan ikan bakar, meski sudah biasa memakan itu di tempat tinggalnya yang megah dan lengkap atas semua hal.
Maya menyesal sebab terbesit setitik rasa benci akibat Udelia yang tak mau memeluknya di malam hari dan lebih memilih begadang bersama sekelompok orang yang telah menculiknya.
Sungguh pikirannya sangat picik, sangat kekanak-kanakan.
Maya menyesal sudah berpikiran jahat pada ibundanya sendiri. Sementara ibundanya terus bersikap baik padanya.
Maya merutuki dirinya yang semestinya paham akan usaha ibundanya untuk keselamatan mereka berdua.
"Jadi putriku sudah tahu ..." Udelia menarik kedua sudut bibirnya, menampakkan ekspresi lega dari kebimbangan yang belakangan mengisi ruang hatinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...