055 - SIMPUL INGATAN TELAH TERBUKA

183 32 0
                                    

"Tuan muda, kenapa Anda berjongkok?"

Rama menjauh saat didekati pengawal penjaga pintu.

Dia ditinggalkan di taman bersama para pelayan dan dayang, tapi dirinya tidak betah berdekatan dengan orang asing.

Hayan tidak mengerti hal ini. Sebab Lopi atau Maya Lopika Wijaya sudah terbiasa dengan banyaknya orang asing yang keluar masuk keraton sedari Lopi masih kecil.

Tidak ada ketakutan pada anak perempuan itu. Berbanding terbalik dengan Rama yang selama ini hanya tinggal di sekitaran rumah utama Ekadanta dan hanya melihat sekelompok orang yang itu itu saja.

Orang asing menakutkan baginya. Terlebih Djahan yang merupakan orang asing membuat dirinya mengalami trauma dengan yang namanya orang asing.

Rama berlari menuju rumah, menghindari para pelayan dan dayang yang asing baginya. Belum sampai ke teras rumah, seorang pengawal sudah mendekat padanya.

Rama gemetar ketakutan. Dia berjongkok dan menutupi kepalanya, agar tidak terkena pukulan dari orang asing. Ingatan kecilnya terus berputar kala ayahandanya dipukul oleh orang asing.

Rama selalu takut saat bertemu orang asing, dia akan dipukul seperti yang terjadi pada ayahandanya.

"Saya Taraka Sak, saya tidak mencakar," seloroh Sak.

Sak mengulas senyum pada anak kecil menggemaskan di depannya.

Rama menggigit bibirnya. Dia mengintip Sak dari sudut matanya. Senyuman Sak begitu lebar dan terlihat mengerikan.

Rama takut.

Hiks.. hiks..

Rama menangis. Dia menyembunyikan wajahnya di lutut. Dia takut gigi bergerigi itu akan memakan pipinya yang tebal.

"Aih, senyuman saya menakutkan ya?"

Sak memegang pipinya. Terdapat garis memanjang di sana.

"Ini saya dapatkan saat ada yang menyerang di perbatasan. Mereka orang-orang nakal. Orang nakal dihukum berat ," jelas Sak sembari memegang bekas lukanya.

Rama mengangkat kepalanya mendengar penjelasan Sak. Kata 'menyerang' sudah begitu melekat dalam ingatannya.

Mata kecil itu menyaksikan sendiri bagaimana aula utama kediaman utama Ekadanta hancur luluh lantak dan ayahandanya terpental keluar dari bangunan itu akibat sebuah serangan besar.

Malam itu kelam dan mengerikan.

Suara keras kini menjadi musuh besarnya. Orang asing menjadi traumanya. Mahapatih adalah kebenciannya.

"Atit?" tanya Rama memegangi garis memanjang di pipi Sak.

"Tidak. Tuan muda pintar sekali. Pipi saya jadi tidak sakit."

Sak mengepalkan tangannya. Gemas dengan wajah polos Rama. 

Ingin mencubit. Nanti malah lari.

Sak menyukai anak-anak. Mereka begitu suci dan polos. Berbanding dengan hidupnya yang penuh dengan tipu muslihat dan pengkhianatan.

Negeri yang damai, tidak selamanya damai bagi semua kalanga. Ada orang-orang yang dalam sunyi lagi senyap, mencoba untuk terus memberikan kedamaian pada masyarakat luas.

Hidup mereka mungkin tidak dihujani kemuliaan. Mereka tinggal di dalam kegelapan. Hanya sedikit orang yang mengerti dan memberikan mereka uluran tangan nan hangat, sebagai semangat untuk menjalani hidupnya yang berat.

Mereka adalah para pengawal negeri. Memastikan tidak akan ada khianat dalam keamanan yang rumit. Pun memastikan tidak akan ada bahaya jatuh ke tengah-tengah masyarakat.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang