"Udelia?!"
"Apa yang tuan lakukan?!!" bentak Udelia pada seseorang yang lancang dengannya.
Bayi kecil dalam gendongan Udelia menangis kencang. Makhluk mungil itu terkejut karena suara menggelar.
Sepanjang sepuluh hari hidupnya, tidak pernah ada suara keras terdengar oleh rungunya. Ini kali pertama baginya. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah ibunya.
"Maaf sayang, ibu tidak memarahimu." Udelia mengelus punggung Raka yang menangis kencang akibat bentakannya.
Oek.. Oek..
"Cup.. cup sayang."
Udelia tidak memedulikan orang yang sudah bertindak tidak sopan padanya. Tangisan Raka menyita seluruh perhatiannya.
Udelia membawa putra bungsunya masuk ke kamar. Menenangkannya dan sudah masuk waktunya menyusui bayi merah itu.
"Tuan, mohon maaf sekali. Meskipun Anda adalah Tuan Mahapatih, sangat tidak sopan memasuki kamar nyonya begitu saja," tegur pelayan pria menghalangi sang Mahapatih yang hendak mengejar majikannya.
Kilatan amarah dalam mata Djahan membuat nyali pelayan menciut. Namun tak gentar raganya tetap tegak, menghalangi Djahan yang mencoba memasuki kamar pribadi tuan dan nyonyanya.
Djahan mengusap wajahnya dengan kasar. Terlalu terkejut membuatnya tidak sadar tujuannya datang ke kediaman Ekadanta.
Dia tidak boleh gegabah. Akan menjadi masalah bila dia salah mengira.
Meski..
Djahan yakin penglihatannya tak salah.
"Perintahkan nyonya untuk datang. Dengar, ini perintah dari Maharaja!" titah Djahan tanpa bisa dibantah.
"Tuan Mahapatih, Anda memberi tahu akan bertemu saya, bukan istri saya," sela Candra. Langkahnya tergesa, sedikit berlari mendatangi Djahan dengan memegang secarik kertas yang dibawa merpati.
Pelayan yang berbisik padanya saat bersama dengan Candra, memberitakan tentang kedatangan burung dara merah, pembawa pesan rahasia.
Candra tidak menyangka pesan rahasia itu adalah pesan kedatangan Mahapatih.
Tau begini dia akan menyembunyikan Udelia ke tempat yang tidak akan dijangkau Mahapatih, meski harus mengerahkan seluruh tenaganya!
Candra sudah menjauhkan diri dari hal-hal berbau keraton. Dia memiliki tugas mengatur sebuah Watek pun, tidak harus sampai datang melapor ke keraton. Ada alurnya.
Dia hanya perlu memberikan laporan melalui pejabat yang menerima laporan dari para Wiyasa, sebelum pejabat itu menyampaikan laporan pada Mahapatih, kemudian barulah Mahapatih memberikan laporan pada Maharaja.
"Pesannya baru sampai. Jadi saya tidak menyambut dengan benar," imbuh Candra mencoba mengalihkan pandangan Mahapatih dari istrinya.
Candra bersyukur karena para pelayannya bergerak cepat menutup akses dari dalam, menutup pintu dan jendela, agar tidak ada orang dapat mencuri pandang dari luar bangunan.
Mengajarkan mereka untuk tidak mengusik para pejabat tingkat tinggi, memberikan dampak positif di hari yang genting ini. Tanpa diperintah, mereka menutup setiap pintu dan jendela rumah utama.
"Saya mengirim dara merah karena semua pelayan ditolak mentah-mentah. Siapa menyangka Anda menyembunyikan hal besar di sini?"
Gigi Djahan bergemelatuk. Bodohnya dia tidak memikirkan kemungkinan ini!
Candra yang sehari- harinya sibuk di istana, bagaimana mungkin bertemu wanita pujaan dengan begitu cepat!?
Sedangkan dia sendiri tahu, Candra menaruh hati pada istrinya, Udelia!

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Ficción histórica⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...