050 - PUTRANYA HAMPIR SAJA TERBUNUH

147 30 1
                                    

Candra mengerjapkan matanya. Netra kecokelatan itu perlahan terbuka. Alisnya melengkung melihat keberadaan pria yang tak asing di ruangannya.

Pria yang tak asing, namun juga tak lazim berada di dekat tempatnya berbaring. Ra Konco, tabib besar keraton sedang berdiri di dekat ranjang.

Tampak di tangannya sedang mencampurkan dua isian mangkuk berwarna putih pucat dan kuning kunyit.

"Ra Konco?" gumam Candra.

"Saya di sini, tuan," sahut Ra Konco tidak menghentikan kegiatannya. Dia tidak melepaskan tatapannya pada racikan obat di tangannya.

"Anda kenapa ..?"

Candra bingung dengan kehadiran pria itu di sisinya. Dia kira dia salah menduga. Ternyata Ra Konco benar-benar datang.

Tabib paling sibuk satu Bhumi Maja, mana mungkin dapat berkeliaran di luar keraton tanpa majikannya.

"Saya datang bersama Yang Mulia, beliau sangat memperhatikan Anda. Permisi saya ingin mengambil rebusan air di ruang obat."

Ra Konco melenggang pergi dari ruang rawat kepala keluarga Ekadanta.

"Pelayan," lirih Candra memanggil salah seorang pelayan yang setia berdiri di sisi tembok, bak patung tanpa nyawa. Tak akan bergerak bila tidak diperintah.

"Ya, tuan."

Pelayan yang merupakan pria paruh baya itu membantu tuannya yang hendak duduk. Candra memegangi lengannya, menatap lemah si pelayan

"Jangan biarkan nyonya kemari. Uhuk. Katakan, uhuk uhuk uhuk."

Candra memegang dadanya. Rasa sakit itu amat mendera. Pukulan Mahapatih tidak main-main. Himpitan di dada bagai terhantam batu.

"Tuan jangan memaksakan diri." Pria paruh baya terlihat panik. Dia menyuruh tuannya untuk kembali berbaring.

"Katakan aku ada tamu."

Candra mengucapkan sebaris kalimat itu dengan nafas tersengal-sengal. Napasnya pendek-pendek akibat sakit yang bersarang di dada.

Sungguh, jika bukan karena cintanya, dia sama sekali bukan tandingan Mahapatih.

Ada dorongan besar dalam diri Candra untuk terus bangkit tiap kali jatuh dan mengingat wajah istri serta anak-anaknya.

Dia tidak mau kalah. Walau pada akhirnya berbaring di ranjang pesakitan.

Dan mungkin saja dia akan benar-benar mati, jika Mahapatih mengeluarkan seluruh energinya.

Candra dapat melihatnya, Mahapatih menahan energinya, ketika Candra telah tumbang jatuh ke atas tanah.

***

"Nyonya, tuan sudah sadarkan diri," ujar Jo kala membawakan sarapan untuk nyonya dan tuan mudanya.

"Benarkah?" tanya Udelia. Tangannya sedang sibuk membedaki wajah Rama.

Sengaja Udelia mengurus anak dengan tangannya sendiri, karena dia tidak ada kesibukan lain.

Pekerjaan rumah? Mana ada.

Urusan perut? Mana boleh mendekat ke dapur.

Merias diri? Sudah ada bagiannya.

Lagi pula, dia senang bersama putranya di waktu senggang. Sedari baru bisa berjalan, anak kecil itu sudah memiliki banyak kesibukan.

Udelia berharap, dirinya dapat membuat penat orang-orang tersayangnya hilang, dengan cara memberi perhatian khusus saat mereka telah berlelah-lelah.

"Benar, nyonya."

"Ayo kita temui ayahanda," ajak Udelia pada putranya.

Rama sangat lekat dengan ayahandanya. Di setiap kesibukan Rama, hampir setiap saat Candra menemani putranya untuk menimba ilmu.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang