"Mahapatih, Anda tidak pernah sekali pun telat," tegur Hayan.
Sejurus kemudian dia menutup mulutnya melihat penampakkan tubuh Djahan.
"Guru, Anda habis digigit tawon?" tanya Indra polos.
Sekujur tubuh Djahan dipenuhi bulatan berwarna merah. Pakaian perang lebih pendek dari pakaian sehari-hari. Mereka yang ada di sana bahkan bisa melihat bercak merah di paha Djahan.
Djahan tidak sempat menghilangkan bekas seluruhnya. Udelia menggempurnya sampai pagi. Dia sampai kewalahan untuk menghadapi keinginan istrinya.
Tidur hanya sekejap mata. Beruntung dia sudah terbiasa untuk tidak tidur di medan perang. Dia tidur pun hanya untuk menghindari permintaan selanjutnya sang istri. Bisa-bisa dia benar-benar tidak berangkat perang.
"Psst. Tuan Sanjaya sangat polos," bisik seorang prajurit.
"Itu karena beliau masih perjaka sampai sekarang," balas prajurit lain.
Tidak terlalu mengherankan seorang jenderal seorang diri tanpa pasangan, karena Rakryan Tumenggung mereka telah menempati posisi itu sedari baru lulus akademik.
Hidupnya hanya seputar perang, perang, dan perang. Menjadi yatim piatu pun membuat hidup pribadinya tidak terlalu terurus.
Terlebih dengan keluarga besar sempat tercetus konflik yang besar, karena sang paman menempati posisi kepala keluarga Sanjaya dengan gaya kepemimpinan yang semena-mena.
"Saya sudah memeriksa, semuanya telah siap. Jika Maharaja mengizinkan, kami akan berangkat sekarang," tutur Djahan tak memedulikan mata-mata yang memandanginya. Toh pasukan lawas tahu dia sudah menikah.
"Pergilah dan tumpas para pemberontak!" titah Hayan.
"Kami siap menumpas pemberontak!" jawab Djahan.
"Hidup Yang Mulia Maharaja! Hidup Yang Mulia Maharaja! Hidup Mahapatih!" teriak rombongan sembari meninggalkan halaman keraton.
"Potong barisan itu!" titah Udelia dari dalam kereta.
"Tidak bisa, nyonya. Kita akan langsung dibunuh jika menghentikan rombongan ksatria."
Udelia mengertakkan giginya. Tahu sang kusir begitu lembek, dia akan membawa sendiri kereta kuda dari kediaman Mada.
"Cepat kejar sampai depan!" titah Udelia.
Dia salah langkah. Dia kira dapat menahan Djahan dengan membuatnya letih di atas rajang. Pria itu selalu memeluknya sampai siang tiap kali mereka menyelesaikan ritual menghangatkan tubuh.
Rupanya menumpas pemberontakan di Tlogo Rejo lebih penting daripada memeluk dirinya! Djahan sampai melakukan tidur ayam untuk mengelabuinya!
"Anu.. ada Yang Mulia Maharaja di depan, nyonya," cicit kusir.
Udelia melongok dengan kesal. "Hayan jangan menghalangi!" teriaknya pada Hayan yang menghalangi dengan kuda putih besar.
"Maharaniku baru sembuh, tidak akan kubiarkan pergi."
"Maharani, Maharani, ndasmu. Minggir atau aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Aku bisa memerintahkan mata Maharani untuk melototiku terus tanpa berkedip setiap saat."
"Uh!!!!"
Dengan jengkel Udelia turun dari kereta. Ada keluarga kusir yang akan diancam Hayan bila dia memaksa naik kereta kuda. Hayan juga turun dari kudanya mendekati Udelia.
"Baiklah. Aku akan memanggil Utih."
"Jangan konyol, Maharani belum pulih total, apalagi habis bergulat begitu panjang," sindir Hayan dengan nada ketus.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...