039 - DUNIA YANG NYATA

142 29 0
                                    

Udelia merasa jenuh di kamar. Suaminya sudah pergi ke ruang kerja untuk mengurus hal-hal yang tertunda karena kemarin telah menjaganya satu hari penuh.

Pria itu mewanti-wanti Udelia untuk tidak keluar dari rumah mereka. Tapi Udelia yakin, berada di halamannya sendiri tak apa dan tak masalah. Halaman rumah masih termasuk bagian rumah dan Udelia boleh berkeliaran di halaman rumahnya.

Suara gemericik gelang berbunyi dari kedua kakinya. Udelia tertawa pelan. Tawanya seperti anak kecil yang polos. Dia berlari-lari kecil sambil menggerakkan beberapa langkah absurd.

Udelia mengangkat tinggi-tinggi kaki belakangnya hingga sejajar dengan pinggangnya. Dia merasa nyaman ketika bunyi gemelatuk tulang terdengar oleh indranya

Klenting Kuning, yang sedang dilayani Klenting Ijo, Klenting Abang, dan Klenting Biru, menganga dibuatnya. Dia tidak menyangka akan melihat gerakan itu di dunia ini.

Gerakan itu adalah gerakan balet!

Walau tidak secantik gerakan profesional, Klenting Kuning yakin tidak akan ada wanita gila di zaman ini yang mengangkat tinggi-tinggi roknya.

Sungguh tidak anggun! Tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan.

Para orang kuno mencibir gerakan Udelia, sementara Klenting Kuning tersenyum lebar.

Senyum lega terbesit di bibir Klenting Kuning. Dia mengangkat tangannya menyuruh ketiga saudara angkatnya untuk berhenti melayaninya.

"Kakak-kakak silakan kembali. Saya ingin jalan-jalan sendiri," kata Klenting Kuning.

"Nanti kamu butuh-butuh sesuatu kesulitan loh," ucap Klenting Abang.

"Ngga apa."

Dengan terpaksa ketiga perempuan bersaudara itu pergi meninggalkan adik angkat mereka. Bersama Klenting Kuning membuat mereka mendapat banyak hidangan nikmat. Mulut mereka manyum ke depan ketika disuruh kembali ke kamar mereka.

Klenting Kuning tersenyum kecil. Nama aslinya adalah Salsa, dia merupakan mahasiswi bidang pertanian yang tiba-tiba terbangun di dunia yang asing ini.

Baginya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui ini adalah dunia yang nyata. Sebab saat itu dia terluka parah dan mendapati perutnya terasa melilit akibat kelaparan.

Beruntung Randha, ibu dari tiga orang perempuan menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Wanita tua itu seolah menyayangi dirinya sama seperti anak-anaknya.

Tapi setelah Klenting Kuning sembuh, anak pungut itu diperlakukan bak seorang budak.

Ini dan itu semua dilakukan Klenting Kuning, sementara anak-anak perempuan Randha setiap hari hanya berdandan, selalu mencoba peruntungan tiap kali ada anak pejabat ibu kota yang datang ke kampung mereka.

Klenting Kuning tak masalah. Dia juga merasa harus membalas jasa Randha. Apalagi dia tidak memiliki kerabat.

Namun hari itu, saat usianya dalam kelabilan, kesabarannya yang besar telah habis.

Klenting Kuning baru menyelesaikan pakaian yang menggunung. Itu adalah kain-kain khusus. Dia harus ekstra hati-hati dalam mencucinya. Berulang kali menggosokkan berbagai jenis daun —sebagai sabun cuci— agar kualitas kain tidak berkurang.

Tak masalah. Dia sudah terbiasa mencuci banyak pakaian. Di dunia modern, dia menambah uang jajan dengan bekerja di laundry. Merapikan rumah pun tak masalah. Dia selalu membantu ibunya membersihkan rumah.

Semua itu tak masalah baginya. Tiga Klenting bersaudara tidak membuat ulah, dia masih makan di meja makan bersama dengan yang lainnya, dan pakaian miliknya tidak jauh berbeda. Hidupnya terasa baik-baik saja.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang