037 - KAMU MILIKKU

263 32 0
                                    

Klenting Kuning menepuk pundak Udelia dan berlalu pergi ke ruangan yang ditunjuk sang nyonya rumah.

Para perempuan yang berkumpul di taman, serempak menatap Klenting Kuning dengan berbagai ekspresi.

Ada yang iri dengan kecantikannya, ada yang menatap aneh dengan kelakuannya yang tak sopan, ada yang berdecak sebal karena malu dengan kelakuannya.

Klenting Kuning tidak memedulikan semua itu. Dia bahkan masuk ke ruangan dengan riang dan terdengar menyapa keluarga angkatnya. Suaranya begitu menggelagar, mereka yang di taman sampai mendengarnya.

"Memalukan," desis pelayan di sisi Udelia. Pasalnya rombongan nyonya rumah itu sudah lumayan jauh dari ruangan yang ditempati keluarga Klenting. Klenting Kuning bersuara dengan keras.

Udelia menatap lurus pelayan wanita di sisinya dan bergegas wanita itu memohon ampun.

"Mo-mohon ampuni hamba, Nyonya."

"Aku tidak masalah dengan pemikiran kalian atas suatu hal. Tapi simpan baik-baik di dalam kepala kalian. Kalian pelayan keluarga Ekadanta, turut serta membawa nama Ekadanta."

"Kami mengerti Nyonya."

Udelia tidak memperpanjang masalah. Mereka berjalan menuju ruangan lain, menyapa para tamu dan membawakan hidangan spesial. Kemudian terakhir menyapa orang-orang di taman.

Udelia menyapa orang-orang sesuai urutan kasta dan kedekatan keluarga yang diberitakan para tetua. Dia sangat teliti.

***

Udelia menghempaskan tubuhnya yang terasa remuk. Keluarga dari para selir dan gundik, tidak menyia-nyiakan kesempatan saat berada di kediaman orang besar.

Banyak dari mereka terang-terangan ingin mencari penghidupan di Wanua Batako, daerah kekuasaan Ekadanta.

Udelia sama sekali tidak keberatan jika mereka hendak bekerja di wilayah suaminya.

Masalahnya ialah orang-orang kerdil itu menggunakan nama Ekadanta, untuk menekan orang-orang, bahkan tak jarang meminta barang dan makanan secara gratis.

Orang-orang itu sangat licik. Mereka meminta makanan dari pedagang kecil, agar beritanya tak sampai ke kediaman Ekadanta.

Mereka tidak pernah berpikir, bahwa pintu rumah Ekadanta selalu terbuka lebar untuk siapa pun.

Mereka pasti mengira semua bangsawan hanya mau bergaul dengan kasta yang setingkat. Mereka berpikir bisa berperilaku semena-mena.

Candra belum mengetahui masalah ini. Suaminya itu sedang sibuk membuka bisnis baru. Sehabis pesta berakhir, lanjut membahas bisnis. Pun turun tangan secara langsung memantau bisnisnya.

Keluarga Ekadanta menghasilkan banyak uang. Namun suaminya berkata dia lebih senang menghasilkan uang sendiri untuk kehidupan pribadi, di luar kehidupan Tuan besar dan Nyonya besar Ekadanta.

Jika harus tampil sebagai Tuan dan Nyonya besar Ekadanta, Candra tak segan menghamburkan banyak uang. Tapi ketika membeli barang-barang pribadi, Candra ingin membelinya dengan hasil keringatnya sendiri.

Andaikan dia masih bekerja sebagai pegawai di keraton, penghasilannya akan setara dengan hasil bersih yang didapatkan keluarga Ekadanta.

Tentu Candra tidak mau kembali ke keraton. Dia lebih memilih mengembangkan bisnis, dengan segudang pengetahuan yang dahulu diajarkan istrinya.

Udelia memijat keningnya. Dia ingin melaporkan kesewenang-wenangan keluarga para selir dan gundik Aji pada sang suami, namun suaminya pasti lelah sepulang dari bisnis barunya.

Udelia memutuskan untuk mencari waktu yang tepat. Dia akan memendamnya terlebih dahulu. Banyak pikiran bukanlah hal baik.

Ketika mata Udelia hampir terpejam, sayup-sayup dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ritmenya pelan dan bernada.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang