063 - CARI TAHU DALAM LUBUK HATIMU

102 28 0
                                    

Candra membuka matanya. Udelia tidak ada di atas ranjang. Dia dekati ranjang memastikan Raka masih terlelap, lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar mencari-cari keberadaan istrinya.

"Istriku..? Kakak?" panggil Candra menengok ke kanan dan ke kiri. Sedikit waswas takut sang istri kembali ke dunianya.

"Oh kamu sudah bangun? Makanlah sarapan di sana," ucap sesosok wanita yang sedang berjongkok di depan sumur.

Candra mengerutkan keningnya."Siapa kamu?"

Wanita itu meletakkan pakaian yang sudah dicuci bersih di cepon. Kemudian dia bangkit dan berkacak pinggang di depan Candra.

"Eh? siapa kamu??" Wanita itu tampak terkejut.

"Pergilah dari sini jika ingin selamat," ancam Candra.

"Aku yang harusnya berkata seperti itu. Eh–"

Kaki wanita itu tersangkut di rumput dan terhuyung ke depan. Refleks Candra menangkapnya, sebab tidak dapat menghindar.

"Adinda! Kamu di sini juga?" teriak Ekata mengagetkan Candra dan si wanita.

Hampir saja Candra melepaskan wanita itu, namun lebih cepat gerakan si wanita yang mukanya semerah bara api.

"Emm. Terima kasih..."

Suara lantang dan garang si wanita, mendadak melembut dan mendayu-dayu. Candra kelabakan karena kakaknya yang sangat lurus melihat dia sedang memegang wanita.

Pasti kakaknya akan ceramah panjang lebar. 

"Oh. Aku mengganggu." Ekata tersenyum simpul.

Candra menjauhkan tubuhnya. Dia menatap kakak sulungnya yang paling sulit ditemui oleh semjua orang. Lebih sulit daripada berjumpa Maharaja Bhumi Maja.

"Ada apa kakanda kemari?" tanya Candra seraya melepas selendang di tubuhnya. Dia melempar selendang itu ke atas tanah.

"Aku bertemu nona. Di mana Yang Mulia?"

Pertanyaan Ekata menyentak Candra. Dia gelagapan mengintai sekitar.

"Yang Mulia? Yang Mulia ada di sini?" cecar Candra.

"Bukankah itu pasti? Nona ada di sini bersama putra mereka." Ekata berkata dengan yakin.

Candra menghela napas lega sekaligus mendengus. Ekata sang kakak masih saja menyangkut pautkan istrinya pada Maharaja, padahal raga istrinya bukan raga Maharani.

"Kakanda, Udelia itu istriku, bukan istri beliau."

"Ya? Bagaimana mungkin? Putra itu milik Yang Mulia," sanggah Ekata.

Ekata menelisik mata adiknya. Dia mengatupkan mulutnya saat sampai pada satu asumsi.

"Kamu menggunakan sihir," tuduh Ekata.

Raut wajah Candra kaku. Kakaknya sangat cerdas. Dia memejamkan mata menenangkan dirinya.

Ingatannya melayang pada kejadian bertahun-tahun lalu..

Saat Udelia selamat dari kematian, perempuan itu memandang bingung. Otak cerdas Candra langsung tertuju pada satu kesimpulan. Udelia lupa ingatan.

Kakeknya pun membenarkan pemikirannya.

"Ya. Wanitamu lupa ingatan."

"A-apa karena siksaan, mbah?" Candra takut sekali siksaannya berdampak sedemikian mengerikan pada kakak tersayangnya.

"Kamu ini penerus Ekadanta, masa tidak tahu?" omel Boco.

Candra yang gusar dengan keadaan Udelia lupa ingatan pun diam mendengarkan omelan Boco. Otaknya sama sekali tidak dapat memikirkan alasan Udelia lupa ingatan.

TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang