Mentari pagi bersinar terang. Seorang pria duduk di sisi ranjang megah dalam Kedaton Kambang. Dia menyunggingkan senyumnya memperhatikan seorang gadis kecil sedang sibuk menata rambut.
Gadis kecil itu persis seperti ibundanya, tidak mau dilayani orang lain tentang segala hal yang menyangkut dengan tubuh.
"Tubuh adalah harta berharga. Tidak boleh dilihat orang lain."
Begitu alasan sepasang ibu dan anak itu, padahal keduanya belum pernah berjumpa.
Hayan memberikan senyum terbaiknya. Maharaja Bhumi Maja itu memastikan dirinya selalu terlihat baik di mata putri kesayangannya.
Hayan senantiasa mengharapkan kesempurnaan untuk putrinya.
"Belahan jiwa ayahanda sudah bangun?" ucap lembut Hayan. Dia mengelus kepala Maya yang duduk di depan cermin.
"Ayahanda!" seru Maya berbalik memeluk erat Hayan. Aroma tubuh Hayan yang menenangkan, selalu dirindukan Maya.
Dia terlalu memusatkan perhatiannya untuk tampil semaksimal mungkin, sampai tidak menyadari ada orang yang datang. Dia tidak berpikir ayahandanya pulang cepat dari pekerjaan di tempat yang jauh.
Maya sering kali berharap ayahandanya hanyalah orang biasa, sehingga dia memiliki banyak waktu untuk bersama-sama dengan ayahandanya.
Tapi semua itu hanya harapan di masa lalu. Dia tidak boleh mengeluh dengan takdir yang diberikan padanya.
Dia adalah Tuan Putri, putri dari penguasa tertinggi Bhumi Maja.
Segala tugas dan tanggung jawab, mestilah dilakukan selayaknya hak-hak yang telah diterima.
Maya mulai menerima takdirnya, sebagaimana dia menerima takdir berjumpa dan berpisah dengan sang ibunda. Dia yakin kelak takdirnya akan kembali mempertemukan dirinya dengan ibundanya.
Sebelum dia berjumpa kembali dengan ibundanya, dia akan menjadi kuat dan dia akan menjadi pribadi lain yang akan membuat ibundanya bangga.
Semuanya itu dimulai dengan dia menjadi Tuan Putri yang bertanggung jawab. Menempuh pendidikan dengan baik, memberikan contoh yang baik, serta meringankan tugas-tugas ayahandanya.
Langkah pertama yang dia lakukan adalah tidak terus merengek bila ayahandanya ada tugas di tempat yang jauh. Dia akan berlapang dada.
"Maafkan kecerobohan ayahanda. Semua yang terlibat akan diberi hukuman."
"Ayahanda, yang bersalah adalah mereka yang meninggalkanku."
Hayan menggeram dalam hati, dia sangat marah. Dirinya seperti orang bodoh yang dipermainkan orang-orang rendahan.
Penculikan Maya dan jebakan yang menimpa dirinya, Hayan pastikan akan membalasnya berkali-kali lipat.
"Akan ayahanda hukum."
Maya mengangguk pelan. Dia pun bangkit dari duduknya.
Hayan memperhatikan Maya yang telah menyelesaikan riasannya. Maya menggunakan kebaya rancangan istrinya.
"Pakaian sayangku bagus sekali," puji Hayan. Dia tidak tahu Maya akan merealisasikan rancangan ibundanya. Maharaninya tercinta memang senang membuat pakaian-pakaian baru.
Sayangnya rancangan-rancangan kebaya tidak terealisasi karena Maharaninya tidak ingin memakai kebaya saat sedang mengandung.
Kini putrinya merealisasikan impian ibundanya.
"Ananda akan berangkat ke akademik," jelas Maya.
"Lopi baru saja kembali, istirahatlah dahulu. Lagipula Lopi sudah menguasai seluruh pelajaran dengan sempurna. Tidak perlu pergi ke akademik."

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Ficción histórica⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...