"Istriku. Ayo kembali. Darahmu keluar dengan deras," ucap pelan Candra.
Tidak ada lagi nada sindiran dan nada ketus meluncur keluar dari mulutnya. Candra tak tahan melihat darah keluar dari tubuh istrinya.
Dia khawatir.
"Raka ... ingin makan?" tutur Udelia mengusap kepala Raka. Bocah itu bangun dan terus menatapnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" kata Candra menangkup wajah Udelia. Mengelap darah di wajah Udelia.
"Panca!" Candra memanggil hewan kontraknya. Niatnya pulag sudah tak berbendung. Candra ingin mengobati luka istrinya.
Panca muncul dengan raga manusia. Dia tidak pernah menunjukkan raga aslinya selain pada majikannya dan orang-orang sial yang datang ke sarangnya.
Kendatipun dijadikan ikon Tanjung Nagara sebagai hewan yang memiliki banyak makna, lembuswana tidak lantas merasa tersanjung atau mau berdekatan dengan manusia.
Lembuswana adalah hewan mitos paling anti dengan manusia. Dewasa, anak-anak, atau sekalipun bayi merah yang tidak memiliki kekuatan dan akalnya belum sempurna, semua masuk ke dalam perutnya.
Saat berhadapan dengan Candra, lembuswana telah melahap manusia itu tanpa mengunyahnya. Namun anehnya si manusia tidak tercerna di dalam perutnya.
Candra merobek bagian perut lembuswana dan melenggang keluar tanpa mengambil keuntungan dari makhluk mitos yang sedang terkapar lemah.
Lembuswana sendiri yang mendatangi Candra memilih penyihir Bhumi Maja sebagai majikannya.
Belasan tahun pria itu tidak menggunakan kekuatannya, akhirnya sampai pada titik sang majikan membutuhkan kekuatannya.
"Aku mau di sini." Udelia menempelkan wajahnya ke perut datar Candra. Menghirup aroma suaminya yang sangat dia rindukan. Sudah lama tidak memeluk tubuh suaminya.
"Sakitmu akan tambah parah."
"Aku hanya belum menguasai kekuatan."
Candra mengusap kening Udelia. Memeriksa jalur energi miliknya di dalam tilak Udelia saat menyerahkannya di upacara pernikahan.
Letupan energi terasa kuat di tubuh Udelia.
Candra mendesah. Tabib Ra Konco adalah tabib terbaik. Begitu mudahnya menghilangkan segala halangan di tubuh Udelia.
Candra tidak akan menghalangi kekuatan di raga Udelia. Karena pasti istri tercintanya itu membutuhkan kekuatan untuk melawan musuhnya.
Udelia telah dikenal sebagai calon selir baru Maharaja. Pasti banyak yang mengincarnya. Tidak selamanya Candra bisa di sisi Udelia. Seperti yang terjadi kemarin.
Candra terlalu terlena dengan tiga tahun kebersamaan yang jarang memisahkan mereka, kecuali hanya setengah atau satu hari karena acara adat yang berbeda tempat.
"Kami akan menyewa rumahmu. Apa bisa tinggalkan kami?"
Candra hendak membantu Udelia kembali mengendalikan kekuatannya. Dia tidak mau ada orang tahu jika mereka berdua adalah orang yang kuat.
Mereka akan mudah dideteksi oleh kalangan atas jika jadi terkenal.
"Mohon maaf, tuan. Rumah ini–"
"Ambillah. Tinggalkan kami berdua di sini." Candra melempar kantung dari cincinnya.
Udin menunduk, mengambil kantung yang terjatuh ke tanah, matanya melotot melihat sekantung penuh emas.
Binar gembira selalu menyerbu seseorang yang mendapatkan emas. Udin mengangguk patuh.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
Historical Fiction⚠ Peringatan ⚠ Mengandung unsur 21+ Harap bijak dalam memilih bacaan. Dia terbangun dari komanya dan melupakan segala yang telah terjadi di sepanjang tidurnya. Dia lupa bahwa dia pernah berpindah ke zaman keemasan dan menjadi perempuan dengan deraja...