"Kurangi kegiatan Bil. . Ada dua janin di perut mu. Kalau memang OP mu bisa dialihkan ke dokter lain alihkan, jangan tiap hari kamu OP" Sindi menasihati Nabila sambil memberikan resep vitamin untuk Nabila.
"Iya makasih ya Sin... aku bakalan lebih jaga diri".
"Bagus.. ini vitamin jangan lupa diminum. Susu ibu hamilnya juga ya... terus makanan dijaga, dan lagi jangan sering-sering lari ya. Aku tau kamu dokter hebat, tapi dokter hebat juga harus punya skala preoritas. Pasien memang preoritas tapi anak dalam rahim mu juga preoritas utama".
"Ya Allah dokter Sindi. MasyaAllah.. makasih ya udah diingetin... makasih banget" ucap Nabila memeluk Sindi.
"Sama-sama... ya udah sana temui suami mu dan kasih kabar bahagia ini. Ini foto USG mu" suruh Sindi.
"Siap.. makasih cinta ku. Assalamualaikum" ucap Nabila yang langsung berlari kecil.
"Astagfirullah Nab.. jangan lari Ya Allah dokter satu ini ya...Waalaikumsalam".
Mendengar teriakan Sindi Nabila memelankan langkahnya dan tersenyum. Entahlah kebahagian ini membuat Nabila lebih bersemangat berkali-kali lipat.
Nabila tak sabar untuk menemui Rony dan menceritakan itu, tapi dia juga ingin memberi tau berita bahagia ini pada Rony dengan cara yang spesial.
"Nanti di rumah aja deh... aku periksa pasien ku dulu" Nabila bermonolog sendiri.
Usai memeriksa pasiennya Nabila segera menuju ruangan Rony. Jam pulang tiba dan segera Nabila mengajak Rony pulang.
"Ayo pulang sayang" ajak Nabila tanpa basa-basi.
"Oke... Tapi tunggu deh... kenapa santai banget. Tadi ngelarang buat pulang sekarang malah nagajak" tanya Rony heran.
"Sakitnya kakak gak ada obatnya" jawab Nabila santai sambil membuka infus di tangan Rony dan membereskan semua hal yang perlu dibawa pulang.
"Maksudnya sayang?".
"Nanti aku jelasin di rumah ya...Kakak pengen dimsum kan.. aku buatin nanti" ajak Nabila yang terburu-buru untuk segera tiba di rumah. Rony pasrah mengikuti apa mau Nabila walau dia merasa aneh dengan sikap Nabila.
Di Jalan Nabila menyetir dan lebih banyak diam. Sungguh hatinya sedang bahagia, karena itu dia menahan diri agar bisa mengatakan itu di rumah.
"Yang... kok cuman diem... kamu kenapa?" tanya Rony.
"Gak papa kak...".
"Hasil pemeriksaan ku aman kan?" tanya Rony lagi.
"Aman... kakak sayang. Tenang oke" jawab Nabila menoleh pada Rony menghaturkan senyum terbaiknya.
"Habis kamu aneh... diem aja dari tadi".
"He.. iya maaf.. maaf... Ngomong-ngomong kak.. aku makin gendut ya?".
Rony mengerenyitkan dahinya, Nabila sering kali menanyakan hal aneh tiba-tiba. Dari hening tanpa kata dia tiba-tiba menanyakan hal yang tak disangka-sangka pada Rony.
"Hem... ini gimana jawabnya ya. Kalau jujur kamu bakalan marah gak?" jawab Rony berusaha hati-hati.
"Jawab aja kak... aku gak bakal marah" ujar Nabila.
"Hem..jujur iya sih sayang, kamu makin gemuk perut mu juga lebih berisi. Et...tapi gak papa kok, kamu tetep cantik. Segemuk apapun kamu, aku tetep cinta sama kamu" ucap Rony.
"Iya kah... aku berarti bener-bener gak perduli ma tubuh aku selama ini sampek-sampek aku gak sadar".
"Hem... gak papa sayang, kamu makin gemuk makin imut loh aku suka" Rony menarik sebelah tangan Nabila dan menciuminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA PERTAMA
Narrativa generale"Beri sedikit keberanian untuk perlahan terbang bebas tanpa mendengar prasangka yg menghimpit dada. Melangkah tanpa resah mendengar bisik yg memilukan. Dan atau duduk tenang tanpa gundah akan desakan banyak hal" Sepenggal kisah tentang gadis yang hi...
