KEBERANGKATAN

878 82 6
                                        

Hari-hari Nabila lalui, rumah sakit menjadi rumah kedua buatnya. Kesibukannya semakin berkali-kali lipat karena persiapan berangkat ke Turki. Lelahnya meningkat, resah pun selalu menghantui. Entahlah, pikiran Nabila sedang berkutat dengan hal-hal tak menentu. Entah tentang bagaimana dia harus meninggalkan Rony, bagaimana dia harus tetap menjadi istri yang baik walau harus dipisahkan jarak. Semua seakan menghimpit dada Nabila.

"Sayang nanti aku jemput ya" pesan dari Rony masuk ke HP Nabila saat dia baru selesai melakukan operasi dan istirahat di ruangannya.

"Iya Kak, baru selesai. Jemput satu jaman lagi ya, aku masih harus cek pasien di ruangan".

"Siap ibu Negara" jawab Rony menciptakan seburat senyum di wajah Nabila.

Nabila kembali melakukan tugasnya sebagai seorang dokter. Semakin lama dia menjalankan tugasnya sebagai dokter semakin besar rasa syukur yang dia panjatkan. Benar jika di rumah sakit adalah tempat dimana do'a paling tulus akan terpanjat, bahagia yang tak terkira akan terpancar, dan harapan paling membuncah akan terurai walau terkadang sedih paling memilukan terlukis. Semua itu menyelimuti hari-hari Nabila, dan karena itu juga Nabila merasa hidupnya sangat berarti.

Seperti halnya saat ini, saat sebuah mata terpancar menatapnya menyampaikan banyak sekali makna dan langsung  memeluk juga berterimakasih padanya.

"Terimakasih dok.. terimakasih" ucapnya menitihkan air mata.

"Ibu saya hanya perantara, operasi putra ibu ini berhasil atas izin Allah. Mudah-mudahan kedepannya putra ibu akan kembali sehat" ucap Nabila dengan tangan mengelus pundak seorang ibu yang sudah hampir hilang harapannya.

"Dia adalah anak saya satu-satunya. Saya tidak sanggup harus kehilangan dia dok".

"Ibu, hidup dan ajal seseorang sudah tertulis di lahuful mahfudz kita sebagai manusia harus iklas dah pasrah kepada Allah. Saya sebagai perantara selalu berusaha untuk kesembuhan putra ibu" lanjut Nabila. Ibu itu mengangguk dan terus memegang hangat tangan Nabila. Nabila memberikan penjelasan untuk ibu itu atas kondisi putranya pasca operasi. Semua Nabila sampaikan dengan begitu detail. Setelah itu Nabila kembali ke ruangan dan siap-siap untuk pulang.

Tak butuh waktu lama suami tercinta Nabila sudah terlihat hadir saat Nabila turun dari ruangannya.

"Sayang... " panggil Rony. Nabila berlari kecil merentangkan tangannya untuk memeluk Rony.

"Pulang kita?" tanya Rony. Nabila mengangguk menarik lengan Rony menuju parkiran.

"Kita makan di luar ya.. aku minta bibi untuk gak masak" ajak Nabila.

"Oke". Keduanya melangkah pergi saling bergandeng tangan.

"Mau makan di mana sayang?" tanya Rony memelankan mobilnya.

"Aku pengen makan bakso pinggir jalan mau gak?" ajak Nabila.

"Hem.. serius cuman makan bakso?".

"Serius".

"Oke...".

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CINTA PERTAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang