Berita tentang kehamilan Nabila sudah sampai ke telinga abi, umma, ayah, dan ibu. Sungguh berita yang begitu membahagiakan, mereka begitu senang hingga terlihat berlebihan.
"Umma besok pesen tiket buat ke Jakarta" nada Umma terdengar penuh semangat melalui vidio call yang Nabila lakukan.
"Gak perlu Umma. Kan baru bulan kemaren Umma kesini sama Abi".
"Kamu harus ada yang jaga".
"Kan disini sudah ada kak Ronh dan bibi".
"Tapi umma gak tenang Nak".
"Umma abi yang tenang di sana. Bukan gak boleh ke sini tapi jangan gegabah, nanti 4 bulanan Nabila siapin tiket buat abi dan Umma ke sini" bujuk Nabila
Belum sempat Umma menjawab ayah dan ibu Rony masuk berteriak mengucapkan salam. Nabila dan Rony yang sedang duduk santai melakukan vidio call bersama umma dan abi di kamar terkejut mendengar itu.
"Umma, kayaknya ada ibu dan ayah di luar".
"Iya sayang, vidio call jangan di tutup ya" pinta umma.
Nabila dan Rony keluar menemui ayah dan ibu. Mereka datang membawa banyak sekali barang dan juga pembantu.
"Ibu .. Ayah..." seru Rony. Nabila dan Rony berhambur memeluk dan mencium tangan keduanya.
"Sini...sini.. duduk... jangan banyak gerak ya sayang... Ibu bawak makanan sehat, buah-buahan, daging, ikan.. tapi jangan dimakan mentah ya.. Ibu bawak koki khusus buat kamu" Ibu menarik Nabila duduk di sofa berbicara tanpa henti.
"Ya Allah bu.. gak perlu repot-repot. Kan sudah ada Bibi di sini".
Rony dan ayah hanya duduk heran melihat tingkah ibunya. Umma yang mendengar melalui HP juga begitu tersentuh melihat adegan yang penuh kasih disana.
"Oh.. iya satu lagi, kamu cuti aja ya dari sekarang di rumah sakit. Toh rumah sakit itu juga kan rumah sakit ayah" ucap Ibu membuat Nabila membulatkan matanya menatap Rony seperti meminta pertolongan dari sikap ibu. Ayah melihat gerak mata Nabila langsung menengahi.
"Bu... gak gitu caranya, kalau Nabila gak ngapa-ngapain nanti dia bisa stres terus mengganggu kehamilannya juga".
"Hem.. ayah lebih peka ternyata" gumam Nabila.
Nabila memandang ibu dengan binar mata memohon agar mendengarkan ucapan ayah. Sedang Rony masih mematung karena Rony sendiri sepemikiran dengan ibunya.
"Ibu Nabila akan hati-hati, Nabila juga pasti jaga kesehatan. Nabila janji akan mengurangi kegiatan berat di rumah sakit" Nabila memohon meraih tangan ibu lembut.
"Tapi sayang" Rony mencoba bicara, Nabila melihat ada gelagat yang sama protektifnya dari raut wajah Rony.
"Kak... please. Di rumah sakit ada Kak Arya, ada dokter Sindi. Mereka juga bisa jaga aku" Nabila kembali memohon, dia menatap Ayah meminta dukungan.
"Ron, Ibu... jangan buat Nabila stres, pekerjaan Nabila itu bukan hanya sekedar pekerjaan. Itu adalah dedikasi Nabila, biarkan Nabila melakukan itu dengan batasan-batasan kesanggupan tubuhnya. Nabila itu dokter, dia lebih tau kondisi dirinya sendiri" Ayah benar-benar berusaha untuk memberikan dukungan penuh pada menantu kesayangannya. Bukan karena tak sayang, tapi ayah tau Nabila akan sedih jika dia harus berhenti bekerja.
Semua terlihat berfikir, Nabila terus menunjukkan wajah penuh harapnya hingga terdengar suara dari telfon genggam Nabila.
"Assalamualaikum boleh ikut bicara?" Abi sedikit berteriak agar terdengar. Nabila hampir lupa jika Abi dan Umma masih terhubung di vidio call.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA PERTAMA
Beletrie"Beri sedikit keberanian untuk perlahan terbang bebas tanpa mendengar prasangka yg menghimpit dada. Melangkah tanpa resah mendengar bisik yg memilukan. Dan atau duduk tenang tanpa gundah akan desakan banyak hal" Sepenggal kisah tentang gadis yang hi...
