Seruan syukur, tawa bahagia, dan senyuman hangat tergambar jelas di ruangan serba putih ini. Kedua orang tua dari Nabila dan Rony yang sudah menjadi kakek nenek itu dengan kompak hadir segera setelah mendengar cucu kembar mereka lahir ke dunia. Abi dan Umma langsung membeli tiket dari Aceh. Sedang Ibu yang Ayah yang sedang ada di Australi pun juga langsung terbang kembali ke Jakarta.
"Kamu merasakan apa sayang?" tanya Umma menghampiri Nabila yang masih tiduran di atas kasur.
"Gak ada Bu, Umma. Nabila baik-baik aja".
"Terkadang kita lupa menanyakan kabar seorang ibu setelah melahirkan karena fokus sama bayi yang baru lahir. Kita kadang lupa pada ibunya yang sudah berjuang. Tapi ibu gak mau seperti itu, ibu mungkin mertua mu tapi bagi ibu kamu adalah anak ibu. Terimakasih sudah memberikan kebahagian di keluarga ibu ya nak" ucap ibu mengecup kening Nabila. Umma yang melihat kehangatan mertua dan menantu itu disergap rasa haru dan syukur yang tak berkesudahan. Umma merasa bersyukur jika putrinya mendapat mertua yang begitu menyayangi Nabila seperti putri kandungnya sendiri.
Ibu melihat Umma yang terlihat berkaca-kaca, ibu lantas menarik tangan Umma di hadapan Nabila.
"Terimakasih sudah melahirkan anak perempuan yang begitu cantik dan hebat" ucap Ibu lembut.
"Saya yang seharusnya berterimakasih. Terimakasih sudah menerima Nabila seperti putri sendiri".
Mereka berpelukan, dari kejauhan para lelaki duduk menatap ketiga perempuan yang sudah menjadi bidadari mereka. Kehangatan tergambar indah disana membuat ketiga laki-laki yang kuat dan perkasa itu tak mampu membendung haru.
"Oh.. iya sudah nyiapin nama untuk bayi kalian?" tanya Umma.
"Udah umma" jawab Rony.
"Siapa" potong Abi.
"Reydra shaquilee dan Reandra Shaqueena" jawab Nabila dan Rony serentak.
Mata kedua orang tua berbinar mendengar nama indah itu.
"MasyaAllah.. namanya indah sekali" jawab semuanya.
Dua hari setelah itu Nabila sudah bisa pulang dari rumah sakit bersama kedua bayinya Baby Rey dan Baby Re. Di rumah mereka disambut oleh banyak orang termasuk beberpa anak dari rumah singgah, Alya, Aro, Anggis, Bagas, Arya dan lainnya. Sengaja mereka datang diundang sekaligus mengadakan selamatan atas kelahiran 2 banyi mungil Nabila dan Rony.
Acara berlangsung dengan begitu meriah hingga semua pulang satu persatu tersisa umma, Abi, ayah, dan ibu. Mereka benar-benar enggan untuk kembali memeluk menemani cucu mereka.
"Nabila sayang.. kamu istirahat aja. Biar Umma sana Ibu yang jaga anak-anak kamu" pinta Umma.
"Gak papa Umma, aku gak capek kok".
"Sayang ini udah larut, kamu gak boleh capek biar asi kamu lancar. Anak kamu dua bukan satu sayang" lanjut Ibu. Nabila mengangguk.
Rony mengantar dan menggandeng Nabila untuk beristirahat di kamar sedang ke dua bayi berada dengan kakek dan neneknya di kamar yang memang sudah disediakan.
"Harusnya kan gak jauh-jauh dari aku kak" rengek Nabila.
"Kan cuman di kamar sebelah sayang, gak jauh.. kalau nangis kedengeran. Umma dan Ibu pasti bawak mereka ke ke sini" jawab Rony.
"Tapi kak".
"Nabila... dengerin aku, aku gak mau kamu terlalu khawatir, cemas, atau over thinking terhadap anak kita. Selama mereka di rumah ini mereka akan aman, ada aku dan kakek neneknya akan menjaga mereka. Sayang kamu gak sendiri buat jaga anak-anak kita" Rony duduk dihadapan Nabila, dia menenangkan Nabila agar Nabila bisa tenang dan merasa nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA PERTAMA
Fiksi Umum"Beri sedikit keberanian untuk perlahan terbang bebas tanpa mendengar prasangka yg menghimpit dada. Melangkah tanpa resah mendengar bisik yg memilukan. Dan atau duduk tenang tanpa gundah akan desakan banyak hal" Sepenggal kisah tentang gadis yang hi...
