Pagi menjelang Rony dan Nabila bersiap untuk bekerja. Ibu dan Ayah pun juga ikut berberes setelah menginap semalaman hanya untuk menjaga Nabila.
"Sayang, di rumah sakit jangan kerja terlalu berat ya" Ibu menasihati Nabila yang sibuk menyiapkan bekal untuknya dan Rony. Ibu memaksa keduanya untuk membawa bekal dari rumah untuk menjamin kesehatan Nabila.
"Iya Ibu... terimakasih ya" jawab Nabila lembut.
"Sayang.. aku jangan dikasih ikan laut ya" teriak Rony dari ruang tamu.
"Iya kak".
"Ron... ini cepet kesini, bawak barang-barang istri kamu" pinta ibu berteriak.
Mendapat perlakuan spesial dari ibu dan ayah tentu membuat Nabila cukup bersyukur, namun Nabila yang memang sudah mandiri itu merasa sedikit terkekang. Bukan tidak suka, perhatian yang berlebihan membuatnya kurang bisa bergerak leluasa.
"Dosakah aku" hati Nabila membatin.
Di mobil Nabila diam, dia tak mengeluarka sepatah kata pun. Rony yang menyadari itu mengangkat tangan untuk mengelus kepala Nabila.
"Kenapa?" tanya Rony.
Nabila memutar matanya menatap Rony dengan sedikit sendu. Dia bingung bagaimana harus mengutarakan perasaannya yang sedang kacau. Nabila khawatir Rony akan salah menangkap maksud dari ucapannya.
"Aku gak papa kok, aku kepikiran sama kakak. Kakak aman kan? Mualnya gimana?" Nabila berusaha mencari alasan lain dari sikap nya itu.
"Aman Sayang... kamu gak usah mikirin aku. Nanti di rumah sakit jangan bekerja terlalu berat ya. Inget makan dan pokoknya jangan lari-lari" pinta Rony.
"Iya kak... Pasti, kakak tenang aja".
Nabila kembali terdiam, kadang sikap Rony yang terlalu protektif ini membuat dia terbebani, tapi dia juga bingung bagaimana mengungkapkan hal itu. Nabila berusaha menerima itu karena dia tau persis apa yang Rony dan mertuanya lakukan hanya semata-mata demi kebaikan dia.
Di rumah sakit Nabila mulai bekerja seperti biasa, tidak ada jadwal operasi hari ini hanya melakukan pemeriksaan rutin sekaligus melakukan tindakan untuk perawatan-perawatan sederhana didampingi oleh perawat.
"Halo adek ku" Sebuah suara menyapanya saat Nabila keluar dari ruangan salah satu pasien.
"Astaga kak aku kaget" seru Nabila mendapati Arya yang sudah bertengger di lorong menunggu dia. Arya tersenyum melebarkan tangan memeluk Nabila.
"Selamat ya.. sehat-sehat. Kenapa aku gak dikasih tau?" Protes Arya.
"Hem.. aku aja juga baru tau ini... jadi kakak tau dari siapa?".
"He.. iya..iya.. tante tadi malem nelfon, dia ngasih kabar sekaligus minta aku buat jaga kamu. Terus Rony juga, dia minta update jadwal kamu terus minta kalau bisa kamu gak dikasih tugas terlalu berat".
Nabila tersenyum pahit, keduanya melangkah pelan di lorong sambil mengobrol ringan.
"Kok gitu senyumnya?" tanya Arya.
"Hem... ya berlebihan gak sih? Bukannya aku gak suka diperhatikan tapi aku dan bayi ku juga baik-baik aja, aku gak mau jadi manja hanya karena kehamilan ku ini" ucap Nabila.
Arya tersenyum menggelengkan kepalanya, dia sudah memprediksi apa yang ada dikepala Nabila. Arya tau seorang Nabila bukankanlah perempuan manja yang akan suka dengan berjibun perhatian.
"Harus mulai terbiasa gak sih".
"Hem... harus banget ya... aku senang banget dan bersyukur, cuman ya gimana... aku jadi ngerasa gak bebas".
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA PERTAMA
Ficción General"Beri sedikit keberanian untuk perlahan terbang bebas tanpa mendengar prasangka yg menghimpit dada. Melangkah tanpa resah mendengar bisik yg memilukan. Dan atau duduk tenang tanpa gundah akan desakan banyak hal" Sepenggal kisah tentang gadis yang hi...
