chapter 13

61 28 3
                                        

Verdi yang tadinya kesal, kini justru tertawa lepas melihat wajah Alana yang frustasi.

"Hahaha! Gila, Al! Gue nggak nyangka lo punya fans kayak Raka! Itu cowok pecicilan banget!" katanya sambil menepuk meja.

Alana mendengus kesal. "Diam lo, Ver! Ini semua gara-gara lo ladenin dia tadi!"

Verdi semakin menjadi-jadi. "Wah, lo panik ya? Jangan-jangan lo mulai tertarik sama Raka?" godanya dengan senyum jahil.

Dini yang melihat itu langsung menimpali. "Eh, iya juga ya! Raka tuh tipe yang gigih, siapa tau lama-lama lo luluh, Al!"

Alana langsung melotot ke arah mereka berdua. "GUE GAMAU LULUH SAMA ORANG GILA KAYAK DIA! LO BERDUA BERHENTI NGAJAKIN GUE BECANDA!"

Tapi bukannya berhenti, Verdi malah makin puas membuli Alana.

"Aduh, Din! Coba lo bayangin kalau suatu hari Alana beneran pacaran sama Raka. Warung ini bakal jadi tempat pacaran paling absurd di kota!" katanya sambil tertawa makin keras.

Dini sampai harus memegang perutnya saking ngakaknya. "Iya, iya! Ntar Raka tiap hari dateng, bawain bunga tapi malah ngerecokin Alana kerja!"

Alana yang sudah di ambang kesabaran langsung melempar kain lap ke wajah Verdi. "LO BERDUA MAU MAKAN SEBLAK ATAU MAU GUE USIR NIH?!"

Verdi melepas kain lap dari wajahnya sambil tetap tertawa. "Ya ampun, Al, lo lucu banget kalau kesel! Fix, hari ini gue puas banget ngebuli lo!"

Dini masih tertawa di sampingnya, sementara Alana hanya bisa menghela napas panjang. "Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini..." gumamnya sambil menatap langit mendung di luar.

Satu hal yang pasti, hari-hari ke depan di warung seblak ini tidak akan pernah sepi drama!

Dini dan Verdi tertawa makin keras melihat ekspresi Alana yang kesal setengah mati.

"Astaga, Al, muka lo priceless banget! Gue nyesel nggak ngerekam!" ujar Dini sambil menepuk pahanya sendiri.

Verdi ikut menyahut, "Beneran, ini hari terbaik gue setelah keluar dari rumah sakit! Gue nggak nyangka lo bisa punya fans kayak Raka. Lo tuh diem-diem menarik juga, ya?"

Alana menatap mereka berdua dengan wajah penuh amarah. "Lo berdua selesai ketawanya nggak, sih?! Mau gue guyur pake kuah seblak?!"

Dini langsung mengangkat tangan tanda menyerah, tapi tetap cekikikan. "Yaudah, yaudah, gue berhenti… tapi sumpah, Al, ini kocak banget!"

Verdi masih menyeringai jahil. "Iya, Al, lo harus terima kenyataan kalau lo sekarang punya penggemar setia. Tinggal lo mau balas perasaannya atau enggak. Jangan-jangan lo diem-diem seneng?" godanya.

Alana mengambil sendok di tangannya dan menunjuk ke arah Verdi. "Lo mau gue sumpelin seblak asin tadi ke mulut lo?"

Verdi tertawa semakin kencang. "Santai, santai! Gue cuma bercanda, kok!"

Dini yang masih tertawa akhirnya menarik tangan Alana. "Udah, Al, jangan kebawa emosi. Anggap aja ini hiburan gratis!"

Alana menghela napas panjang, mencoba mengabaikan mereka berdua. "Ya Tuhan, kenapa temen gue pada gila semua..." gumamnya.

Sementara itu, Verdi dan Dini masih menikmati momen tersebut, puas melihat Alana dikerjai habis-habisan. Hari ini benar-benar jadi salah satu hari paling seru bagi mereka bertiga!

Verdi masih tertawa puas sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi jahil.

"Al, ini tuh karma karena lo udah ngerjain gue pake seblak asin tadi! Sekarang giliran lo yang kena!" katanya sambil nyengir.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang