Tujuh puluh

18 8 0
                                        

Saat sore itu, ketika warung seblak mulai kembali ramai, Arkana datang seperti biasanya tenang, rapi, dengan senyum yang sulit ditebak. Ia memilih duduk di meja dekat etalase, posisi yang cukup strategis untuk melihat Alana dan siapa pun yang berada di sekitarnya.

Tak lama kemudian, Verdi membantu mengantar pesanan. Ia membawa dua mangkuk seblak panas, uapnya masih mengepul. Langkahnya mantap, fokus pada meja pelanggan di dekat Arkana.

Namun tepat ketika Verdi menurunkan salah satu mangkuk ke meja sebelah, Arkana berdiri setengah badan, seolah hendak mengambil tisu.

Duk.Senggolan itu terjadi begitu cepat.

Mangkok seblak miring. Kuah panas tumpah, mengenai punggung tangan Verdi.

“Ah—” Verdi refleks menarik tangannya, wajahnya menegang menahan perih. 

Mangkuk itu nyaris jatuh, tapi berhasil ia tahan.Warung mendadak hening sesaat.

“Mas, nggak apa-apa?” tanya salah satu pelanggan.

Alana yang melihat dari balik meja langsung berlari mendekat. “Verdi!”

Tangan Verdi memerah. Kulitnya tampak mulai memanas, dan uap tipis masih terlihat. Ia menggenggam tangannya sendiri, berusaha tetap tenang.

“Aku nggak sengaja,” ujar Arkana cepat, suaranya datar, tatapannya menatap tangan Verdi sekilas lalu beralih ke Alana. 

“Maaf, aku lagi berdiri mau ambil tisu .”

Verdi menatap Arkana. Tatapan itu singkat, tapi cukup tajam untuk saling membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Gapapa,” kata Verdi akhirnya, menahan napas. “Cuma kena panas.”

Alana tidak percaya begitu saja. Ia menarik tangan Verdi perlahan. “Ini merah, Di. Kamu ke belakang dulu.”

Dini datang membawa air dingin. Tanpa banyak bicara, Alana menyiram tangan Verdi pelan-pelan. Jarinya sedikit gemetar entah karena khawatir, atau karena menahan sesuatu yang tak boleh terlihat.

Arkana berdiri di sana, memasukkan tangan ke saku jaketnya. Wajahnya tetap tenang, terlalu tenang.

“Kalau perlu obat, bilang,” katanya singkat.

Verdi mengangguk kecil. “Makasih.”

Tidak ada kata lain. Tidak ada adu suara. Tapi udara di antara mereka terasa berat.

Setelah itu, Verdi ke belakang warung. 

Alana kembali ke depan, tapi fokusnya buyar. Sesekali matanya melirik ke arah Arkana yang kini duduk kembali, menatap seblaknya tanpa benar-benar menyentuhnya.

Dini mendekat ke Alana dan berbisik pelan, “Itu senggolan aneh.”

Alana hanya menggeleng, pelan. “Jangan ribut.”

Malam terus berjalan. Pelanggan kembali ramai, suara tawa kembali terdengar. Tapi sejak kejadian itu, ada satu hal yang berubah Untuk pertama kalinya,

Alana merasakan jelas beberapa orang tidak sedang datang untuk makan seblak,

melainkan untuk menguji batas.

Alana berdiri di balik meja kasir, menata sendok dan mangkuk seolah sibuk, padahal pikirannya tidak benar-benar di sana. Matanya sesekali melirik ke arah Arkana cara duduknya, caranya diam, dan kejadian sore tadi yang terus berputar di kepala Alana.

Ia curiga.Senggolan itu terlalu pas. Terlalu tepat mengenai tangan Verdi yang membawa mangkuk panas.Tapi Alana menarik nafas pelan. Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Jangan berburuk sangka, Al.Mungkin memang tidak sengaja.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang