Enam puluh delapan

17 7 0
                                        

Raka masih terus berceloteh, seolah suasana memang sengaja ia buat ramai.

“Alana, pesenan gue lama amat sih,” katanya sambil bersandar santai. 

“Jangan-jangan lo lagi mikirin gue?”

Alana menatapnya sekilas.

“Kalau lapar, sabar. Semua sama.”

Nada suaranya datar, tapi cukup membuat Raka nyengir.

“Galak amat. Tapi yaudah, gue suka.”

Arkana akhirnya berdiri. Ia meraih piringnya, berjalan ke kasir untuk membayar. Gerakannya tenang, tapi langkahnya terasa berat.

“Seblaknya enak,” ucapnya pelan pada Alana. “Makasih.”

Alana mengangguk sopan.

“Sama-sama.”

Tak ada senyum tambahan. Tak ada basa-basi.

Arkana menatap Alana sekali lagi lebih lama dari sebelumnya. Bukan tatapan menuntut, bukan memaksa. Lebih seperti seseorang yang ingin mengingat sesuatu sebelum benar-benar melepaskannya.

Lalu ia berbalik dan melangkah keluar.

Pintu warung kembali terbuka, membiarkan suara jalanan masuk. Kursi tempat Arkana duduk kini kosong.

Raka memperhatikan kepergian itu, lalu tertawa kecil.

“Temen lo banyak ya, Lan.”

Alana menata kembali fokusnya ke wajan.

“Pelanggan. Sama aja.”

***

Malam itu, suasana warung seblak mulai lengang. Jam sudah menunjukkan lewat pukul sembilan, hanya tersisa beberapa pelanggan yang duduk santai sambil mengobrol pelan.

Pintu warung kembali terbuka.

Verdi masuk, langkahnya santai. Di tangannya ada satu gelas plastik bertutup susu coklat hangat. Ia langsung mencari Alana dengan pandangan, lalu berjalan mendekat ke etalase.

“Jangan kebanyakan kopi,” katanya pelan sambil meletakkan gelas itu di depan Alana. “Nanti lambung lo protes.”

Alana menoleh, sedikit kaget, lalu mengerutkan dahi.

“Lo ngapain sih repot-repot?”

Verdi tersenyum tipis.

“Bukan repot. Perhatian.”

Alana terdiam sesaat. Tangannya ragu meraih gelas itu.

“Gue kuat kok.”

“Iya, kuat,” balas Verdi. “Tapi bukan berarti harus dipaksa.”

Mata mereka bertemu sebentar. Bukan tatapan berlebihan, hanya hangat cukup untuk membuat jantung Alana berdetak lebih cepat.

“Minum,” tambah Verdi pelan. “Biar anget.”

Alana akhirnya mengambil gelas itu, menyeruput sedikit.

“Manis,” komentarnya singkat.

Verdi tertawa kecil.

“Biar imbang sama hari lo yang pedas.”

Dari kejauhan, Dini yang pura-pura sibuk langsung menahan senyum.

Ada sesuatu yang jelas berbeda malam itu

bukan dari kata-kata, tapi dari cara Verdi berdiri sedikit terlalu dekat,

dan cara Alana tak lagi menghindar.

Malam terus berjalan, lampu warung menyala temaram,

dan di antara hiruk-pikuk kecil itu,

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang