chapter 15

40 18 0
                                        

Setelah Alana akhirnya duduk kembali, Verdi tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Dari tadi galak mulu, kayak kucing yang ekornya keinjek," candanya.

Alana mendengus sambil melipat tangan di dada. "Lo tuh ngeselin banget, Ver. Gak bisa diem, kerjaan lo godain orang mulu."

Verdi terkekeh. "Bukan godain orang, tapi godain lo doang. Soalnya ekspresi lo kalau kesel tuh seru banget."

Alana memutar matanya malas. "Mending kita ngobrol yang normal aja, deh. Gimana kerjaan lo di sini?"

Verdi menghela napas sambil bersandar di kursinya. "Ya gitu-gitu aja. Kadang seru, kadang capek. Tapi ya dinikmatin aja."

Alana mengangguk. "Lo betah?"

Verdi mengangkat bahu. "Lumayan. Tapi kalau ada kesempatan lebih baik, gue sih pengen coba hal lain."

Alana mengernyit. "Kayak apa?"

Verdi tersenyum kecil, lalu mengambil sendok dan memutarnya di antara jari-jarinya. "Gue sih pengen punya usaha sendiri. Biar gak selamanya kerja buat orang lain."

Alana terkejut. Ia tidak menyangka di balik sifat usil Verdi, ternyata dia juga punya ambisi tersendiri. "Wah, keren juga lo. Udah ada rencana?"

Verdi menggeleng. "Masih sekadar wacana. Tapi gue suka ngeliat lo dan Dini jualan seblak. Seru, gak kayak kerja kantoran yang gitu-gitu aja."

Alana tersenyum kecil. "Iya sih, meskipun capek, tapi ada kepuasan tersendiri kalau usaha sendiri."

Obrolan mereka berlanjut dengan santai. Tanpa sadar, Alana mulai menikmati percakapannya dengan Verdi. Tidak ada lagi godaan berlebihan, hanya dua orang yang saling berbagi cerita tentang hidup mereka.

Namun, di tengah obrolan itu, tiba-tiba ponsel Alana bergetar. Saat ia melihat layar, matanya membesar.

Raka menelpon.

Alana langsung menutup layar ponselnya dengan cepat dan mendesah. Verdi yang melihat reaksinya langsung menyeringai lagi.

"Halah, gak usah ditutupin. Udah jelas banget siapa yang nelpon," katanya sambil terkekeh.

Alana hanya bisa menatap langit-langit kafe dengan lelah. Sepertinya, drama hari ini masih belum berakhir.

Alana menatap layar ponselnya dengan mata membulat. "Hah?! Dari mana dia dapet nomor gue?!"

Dengan cepat, dia mematikan panggilan itu dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tapi kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar. "Jangan-jangan… Dini yang kasih?!"

Verdi yang melihat ekspresi panik Alana langsung ngakak. "Wah, wah. Kayaknya ada pengkhianat dalam kubu lo, Al."

Alana mendesis. "Gak mungkin ada orang lain yang kasih nomor gue selain Dini. Dia doang yang punya nomor gue!"

Verdi menyeringai. "Atau mungkin… Raka punya cara sendiri buat dapetin nomor lo? Mungkin dia nanya ke kenalan lo yang lain?"

Alana mengerutkan kening. "Gak mungkin, Ver. Dini satu-satunya yang tau nomor gue di lingkaran pertemanan gue sekarang."

Dia langsung meraih ponselnya lagi dan mengetik pesan ke Dini.

"Din, LO KASIH NOMOR GUE KE RAKA YA?!"

Beberapa detik kemudian, Dini membalas.

"Hah? Gak lah! Ngapain juga gue kasih!"

Alana semakin bingung. Kalau bukan Dini, lalu siapa? Atau… apakah Raka punya cara lain untuk mendapatkan nomornya?

Sementara itu, Verdi hanya duduk santai sambil menikmati ekspresi kebingungan Alana. "Gue sih berharap Raka muncul di depan kafe ini sebentar lagi. Gue pengen liat drama lanjutannya."

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang