Enam puluh tujuh

15 7 0
                                        

Dini tersenyum kecil begitu melihat punggung Alana menjauh.Bukan senyum penasaran.Bukan senyum curiga.

Tapi senyum lega.

Dalam hatinya, Dini bergumam pelan,

“Selama kamu bahagia, Al itu sudah cukup buat aku.”

Dini tahu.Bukan dari kata-kata.

Tapi dari cara Alana tertawa yang kini lebih ringan,dari sorot matanya yang sesekali berbinar saat menatap layar ponsel,

dari diamnya yang kini bukan kosong, tapi penuh.

Ia tidak perlu memaksa Alana jujur.

Tidak perlu mengorek lebih dalam.

Karena sebagai sahabat,

Dini mengerti satu hal Alana bukan sedang menyembunyikan luka dia sedang menjaga kebahagiaannya sendiri.

Dini menghela nafas pelan, lalu tersenyum lagi.

“Kalau orang itu bisa bikin kamu tenang,

bisa bikin kamu senyum tanpa dipaksa,

aku nggak butuh tahu siapa dia sekarang.”

Malam itu,tanpa harus tahu rahasia apa pun,Dini sudah mengambil sikap

ia akan berdiri di pihak kebahagiaan Alana.Dan jauh di dalam hatinya,

Dini berdoa semoga siapa pun yang sedang menggenggam hati sahabatnya,

cukup dewasa untuk tidak menyakitinya.

Dini tersenyum kecil begitu melihat punggung Alana menjauh.Bukan senyum penasaran.Bukan senyum curiga.

Tapi senyum lega.

Dalam hatinya, Dini bergumam pelan,

“Selama kamu bahagia, Al itu sudah cukup buat aku.” Dini tahu.Bukan dari kata-kata.

Tapi dari cara Alana tertawa yang kini lebih ringan,dari sorot matanya yang sesekali berbinar saat menatap layar ponsel,

dari diamnya yang kini bukan kosong, tapi penuh.

Ia tidak perlu memaksa Alana jujur.

Tidak perlu mengorek lebih dalam.

Karena sebagai sahabat,Dini mengerti satu hal Alana bukan sedang menyembunyikan luka dia sedang menjaga kebahagiaannya sendiri.

Dini menghela nafas pelan, lalu tersenyum lagi.

“Kalau orang itu bisa bikin kamu tenang,

bisa bikin kamu senyum tanpa dipaksa,

aku nggak butuh tahu siapa dia sekarang.”

Pintu kamar mandi masih tertutup.

Suara air mengalir pelan.

Di ruang tengah, ponsel Alana yang tergeletak di sofa tiba-tiba bergetar.

Notif masuk.Dini yang sedang melipat baju melirik refleks.

Awalnya mau mengabaikan, tapi layar ponsel menyala terang.

Nama pengirimnya bikin Dini berhenti bergerak.

Verdi.

Dini menelan ludah.Bukan kepo lebih ke konfirmasi rasa curiga.

Pesan itu terbuka.

Verdi

“Sudah sampai rumah? Jangan lupa minum air hangat. Kamu capek seharian.”

Dini terdiam.Bukan pesan biasa.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang