Sepuluh motor itu berhenti hampir bersamaan di depan warung seblak.
Suara mesin yang berat dan berderet membuat beberapa pelanggan menoleh serempak. Beberapa gadis langsung berbisik, ada yang tertawa kecil, ada pula yang terang-terangan menatap tanpa malu.
“Gila rame banget,” gumam salah satu pelanggan.
Verdi turun lebih dulu. Disusul teman-temannya lebih banyak dari kemarin. Wajah-wajah asing, gaya santai tapi jelas bukan orang sembarangan. Jaket hitam, helm mahal, motor-motor besar berjejer rapi.
Alana yang sedang mengaduk seblak refleks berhenti.
Dini menelan ludah. “Ini temannya Verdi semua?”
“Kayaknya iya,” jawab Alana pelan.
Belum sempat mereka berbisik lebih jauh, suasana warung berubah riuh. Beberapa teman Verdi duduk sembarangan, sebagian berdiri sambil tertawa. Sorakan kecil terdengar dari meja pelanggan perempuan.
“Mas, pesan dong satu!”
“Eh yang itu cakep!”
Verdi mendengarnya. Wajahnya langsung berubah.
Saat dua cowok baru yang jelas bukan geng kemarin mulai berdiri terlalu dekat dengan Alana dan Dini, Verdi bangkit dari kursinya.
“Eh,” katanya santai tapi tegas.
“Itu udah ada yang punya. Jangan diganggu.”
Alana membeku.Dini melotot kaget.
Semua tertawa.
“Wihhh, protektif,” celetuk salah satu temannya.
Verdi melirik Alana sekilas. “Yang ini punya gue,” katanya menunjuk Alana sebentar, lalu menoleh ke arah Dini, “yang itu lagi dipantau.”
Tawa pecah lebih keras.
Pipi Alana memanas. “Verdi!”
Setelah warung mulai sepi dan jam tutup hampir tiba, Faris akhirnya memberanikan diri. Tidak lewat Verdi. Tidak lewat candaan.Ia berdiri di depan Dini. Tangannya sedikit gemetar.
“Din,” suaranya pelan, jujur. “Kalau kalau kamu nggak keberatan, mau jalan bentar malam ini?”
Dini terdiam. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Alana menoleh. Verdi memperhatikan dari jauh kali ini tanpa senyum jahil.
“Ke taman aja,” lanjut Faris cepat. “Ngobrol. Nggak lama.”
Dini menarik napas.
Mengangguk kecil.
“Iya.”
Faris tersenyum lega, gugup, bahagia.
Malam itu, setelah warung tutup, Dini dan Faris berjalan berdampingan ke taman kota. Tidak saling menyentuh. Tidak banyak bicara.Canggung.
Gugup.Tapi entah kenapa nyaman.
Lampu taman menyala temaram. Angin malam pelan menyentuh wajah
Dini tersenyum kecil
Faris mengangguk.
Di kejauhan, Alana melihat mereka dari balik warung yang sudah gelap.
Verdi berdiri di sampingnya.
“Kamu bahagia?” tanya Verdi pelan.
Alana tersenyum.
“Iya.”
Dan malam itu, tanpa drama, tanpa keributan, tanpa orang ketiga yang meledak-ledak mereka semua melangkah ke arah rasa yang pelan, tapi nyata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
