Dini duduk kembali di samping ranjang, tetapi tangannya gemetaran hebat. Ia terus melirik ke arah pintu kamar, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tiba-tiba menampakkan diri.
Tiba-tiba Alana mengerang pelan.
“Dini…” gumamnya setengah sadar.
Dini langsung mendekat. “Iya, Al. Gue di sini lo tenang aja.”
Alana membuka mata sedikit hanya setengah. Pandangannya masih kabur.
“Verdi…” bisik Alana. “Dia… kenapa?”
Dini menggenggam tangan Alana, mencoba tersenyum meskipun suaranya sendiri bergetar.
“Udah, udah lo jangan pikirin Verdi dulu. Badan lo panas banget.”
Tapi Alana tiba-tiba menatap Dini, seperti memaksa untuk tetap sadar.
“Gw mimpi, dia jatuh, gelap,ada suara orang, Din, gue takut sesuatu terjadi”
Air mata Dini hampir jatuh. Itu cuman Mimpi Al itu terlalu mirip dengan pesan misterius barusan.
Dini tak ingin Alana makin panik.
“Al, denger gue. Gue bakal cari tahu soal Verdi besok. Gue janji. Tapi sekarang lo harus istirahat dulu, oke?”
Alana akhirnya menutup mata lagi. Nafasnya mulai pelan, tubuhnya semakin panas.
Dini meraih handuk dingin dari baskom di samping ranjang, menaruhnya di dahi Alana.
Saat itu juga
HP Alana bergetar lagi.Dini menoleh cepat. Kali ini tanpa ragu ia mengambil HP itu dan langsung membuka pesannya.
Pesan baru itu hanya berisi satu kalimat
“kalian mau tau tentang verdi kan?.”
Di bawahnya ada satu foto.
Dini terpaku.
Mulutnya terbuka sedikit.
Itu foto Verdi.
Ia tampak seperti sedang duduk di lantai, dalam ruangan gelap. Wajahnya tidak jelas karena cahaya minim, tetapi…
Dini menutup mulutnya erat. Napasnya memburu.
“Ya Allah ini apa…”ucap Dini
Tapi sebelum ia sempat mencerna gambar itu
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu depan terdengar lagi.
Sedikit lebih keras.
Dini mematung.
Alana masih terlelap, berkeringat dan demam.
Ketukan itu berbunyi lagi.
Tok… tok… tok…
Dini berbisik ke diri sendiri,
“Din, lo harus kuat demi Alana.”
Dengan langkah sangat pelan, ia berjalan keluar kamar menuju pintu depan.
Ia memutar kunci pelan membuka pintu hanya sedikit.Dan ternyata di luar tidak ada siapa-siapa.Hanya selembar kertas tergeletak di depan pintu, basah oleh sisa hujan.
Dini menunduk, mengambilnya dengan tangan gemetar.
Tulisan di kertas itu:
“Kalian terlalu dekat dengan dia.
Berhenti sekarang sebelum terlambat.”
Dini menutup pintu cepat, mengunci dua kali, lalu bersandar pada dinding.
Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan atau meninggalkan ancaman itu.
Ia hanya tahu satu hal.Verdi benar-benar dalam bahaya.
Dini baru saja memutar kunci pintu kamar Alana ketika matanya menangkap sesuatu di luar jendela kecil ruang tamu.Ia refleks menghentikan langkahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Fiksi Remaja📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
