Pagi ini langit begitu cerah, matahari bersinar hangat, dan udara terasa segar. Tapi bagi Alana, pagi ini terasa seperti awal dari hari yang melelahkan.
Sambil meregangkan tubuhnya yang masih terasa pegal, ia menatap langit dari jendela kamar. "Hari ini bakal ada drama apalagi, ya? Kayaknya hidup gue udah kayak sinetron tiap hari."
Dari luar kamar, suara Dini terdengar. "Al, cepetan! Kita harus ke warung sebelum pelanggan datang!"
Alana mendesah pelan lalu beranjak dari kasurnya. "Iya, iya. Lo kayak alarm hidup, Din."
Saat ia meraih ponselnya, matanya langsung menangkap notifikasi chat yang masuk. Dan benar saja…
Dari Raka.
Alana langsung menghela napas. "Ya Allah, baru bangun udah ada tanda-tanda drama."
Dengan malas, ia membuka pesannya.
Raka: "Jangan lupa sarapan, nanti lo lemes terus marah-marah ke gue. Kan kasian."
Alana mengernyit."ngeri juga ni orang."
Alih-alih membalas, ia memilih untuk meletakkan ponselnya dan bersiap-siap. Ia tak mau buang waktu pagi ini hanya untuk drama yang belum tentu ada akhirnya.
"Bismillah, semoga hari ini gak ada gangguan dari orang absurd itu," gumamnya sambil menuju kamar mandi.
Setelah selesai sarapan, Alana dan Dini memutuskan untuk membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum berangkat ke warung.
"Kita buka jam sembilan, jadi masih ada waktu buat beres-beres," kata Dini sambil menggulung lengan bajunya.
Alana mengangguk, mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai. "Iya, lumayan biar rumah gak kayak kapal pecah."
Dini yang bertugas menyapu halaman tertawa kecil. "Kapal pecah masih mending, rumah kita kadang kayak bekas medan perang."
Alana hanya mendengus dan terus menyapu. Mereka berdua berbagi tugas; Alana membersihkan ruang tamu dan dapur, sementara Dini menyapu halaman dan mengepel lantai.
Setelah hampir satu jam bekerja, akhirnya rumah mereka terlihat lebih rapi. Alana duduk di sofa sambil mengusap keningnya. "Capek, tapi puas. Rumah jadi enak dilihat."
Dini mengangguk setuju. "Setidaknya nanti pas pulang, kita gak perlu beberes lagi. Tinggal istirahat."
Setelah memastikan semuanya bersih dan rapi, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke warung seblak. Jam sudah menunjukkan pukul 08.45, dan mereka harus segera pergi agar warung bisa buka tepat waktu.
Tepat pukul 09.00, Alana dan Dini tiba di warung seblak. Begitu mereka membuka pintu, beberapa karyawan mereka sudah datang lebih dulu dan sedang bersiap-siap.
"Pagi, Kak Alana! Kak Dini!" sapa salah satu karyawan dengan semangat.
Alana tersenyum sambil mengangguk. "Pagi."
Dini menaruh tasnya di meja kasir dan ikut tersenyum. "Iya nih, kalau setiap hari gini terus, bisa-bisa kita yang kalah rajin."
Para karyawan tertawa kecil, lalu melanjutkan persiapan mereka. Ada yang mulai menata bahan-bahan, ada yang membersihkan meja, dan ada yang sudah bersiap di dapur.
Alana mengambil celemeknya dan mulai mengecek bahan-bahan untuk hari ini. "Oke, hari ini kita harus siap. Soalnya biasanya pelanggan makin hari makin banyak."
Dini mengangguk. "Betul! Makanya kita harus kerja lebih cepat biar gak keteteran nanti."
Tak butuh waktu lama, warung seblak mereka akhirnya benar-benar buka. Perlahan, pelanggan mulai berdatangan, dan kesibukan pun dimulai.
Pagi ini terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Raka, dan itu membuat Alana merasa lega.
Sambil memasukkan bahan-bahan ke dalam wajan, ia bergumam dalam hati, "Alhamdulillah, hari ini kayaknya gak bakal ada drama absurd dari bocah itu."
Dini yang memperhatikan Alana tersenyum jahil. "Lo kenapa sih senyum-senyum sendiri? Lagi bahagia ya karena gak ada Raka?"
Alana melirik tajam. "Jelas. Setidaknya hari ini gue bisa kerja dengan damai tanpa gangguan cowok aneh itu."
Dini tertawa kecil. "Tapi jangan seneng dulu. Siapa tau nanti dia muncul tiba-tiba."
Alana mendengus. "Jangan nakut-nakutin, Din. Gue pengen fokus kerja hari ini."
Dini hanya mengangkat bahu sambil terus melayani pelanggan. Seiring berjalannya waktu, warung semakin ramai. Alana benar-benar menikmati pekerjaannya tanpa gangguan.
Namun, dalam hati kecilnya, ia merasa sedikit aneh. Biasanya, Raka selalu muncul dengan tingkah aneh nya. Tapi hari ini… benar-benar sepi dari kehadirannya.
"Apa dia udah nyerah?" pikir Alana, meskipun ia tahu kemungkinan itu sangat kecil.
Alana menggelengkan kepalanya, menepis pikiran tentang Raka. "Ngapain juga gue mikirin dia? Mending fokus kerja."
Siang ini pelanggan mulai berdatangan lebih banyak. Seperti yang sudah mereka duga, hari libur selalu membuat warung mereka lebih ramai dari biasanya.
"Al, pesanan meja tiga udah siap belum?" tanya Dini sambil membawa nota pesanan.
"Bentar, Din! Lagi finishing!" jawab Alana sambil cepat-cepat menata seblak ke dalam mangkuk.
Para karyawan juga sibuk melayani pelanggan. Ada yang mencatat pesanan, ada yang membersihkan meja, dan ada yang sibuk di dapur membantu Alana memasak.
Salah satu karyawan mendekat ke kasir. "Kak Dini, stok ceker tinggal sedikit. Mau ditambahin sekarang atau nanti aja?"
Dini berpikir sejenak lalu menoleh ke Alana. "Al, stok ceker mau ditambah sekarang atau nunggu sore?"
Alana yang sedang menata seblak mengangguk. "Tambah sekarang aja, mumpung masih siang. Biar nanti sore gak repot."
Setelah itu, mereka semua kembali sibuk melayani pelanggan. Warung seblak mereka benar-benar ramai, dan Alana tak lagi memikirkan hal-hal yang mengganggu. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu: menyelesaikan semua pesanan dengan cepat dan tetap menjaga kualitas rasa.
Alana, Dini, dan para karyawan bekerja dengan sangat fokus dan kompak. Mereka sudah terbiasa menghadapi pelanggan ramai, jadi tanpa perlu banyak bicara, semuanya tahu tugas masing-masing.
"Pesanan meja lima siap! Kirim sekarang, ya!" seru Alana sambil menyerahkan mangkuk seblak kepada salah satu karyawan.
"Siap, Kak!" jawab karyawan itu dengan sigap, lalu segera mengantarkan pesanan ke pelanggan.
Dini yang berada di kasir sibuk mencatat pesanan baru dan menangani pembayaran. "Al, ada tambahan dua porsi seblak level tiga buat meja tujuh!"
"Oke, Din! Lagi gue buat!" balas Alana tanpa menoleh, tangannya lincah memasukkan bahan ke dalam wajan.
Para karyawan juga bergerak cepat. Ada yang menyiapkan minuman, ada yang membersihkan meja untuk pelanggan baru, dan ada yang membantu di dapur. Mereka benar-benar bekerja seperti tim yang sudah terlatih.
Meskipun sibuk, suasana tetap menyenangkan. Sesekali terdengar tawa kecil di antara mereka saat ada momen lucu, seperti salah satu karyawan yang hampir salah mengantar pesanan karena buru-buru.
"Hampir aja meja dua dikasih pesanan meja empat, untung sadar!" kata seorang karyawan sambil tertawa.
Dini ikut terkekeh. "Kalau sampai salah, bisa-bisa pelanggan jadi protes. Makanya fokus!"
Alana tersenyum melihat kekompakan mereka. "Alhamdulillah, meskipun capek, tapi warung lancar. Semoga begini terus!" gumamnya dalam hati.
Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis
Jangan lupa vote and komen nya gays💙💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Novela Juvenil📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
