Verdi duduk sendirian di bangku halte, helmnya tergeletak di samping. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi wajahnya yang terlihat jauh lebih lelah dari biasanya.Ia menunduk lama.Ada rasa berat yang menekan dadanya bukan marah, bukan takut melainkan kecewa pada diri sendiri.
“Gue nggak pantes,” gumamnya pelan.
“Bukan buat dicintai tapi buat nyakitin.”
Bayangan Alana kembali muncul. Tatapan matanya yang terluka, suaranya yang tenang tapi penuh kekecewaan. Verdi memejamkan mata, seolah ingin mengusirnya, tapi justru makin jelas.
Selama ini ia selalu berdalih demi melindungi.Tapi kenyataannya, ia telah membuat Alana merasa ditinggalkan.
Tangannya mengepal.
“Lo datang ke hidup orang,” katanya lirih pada diri sendiri.
“terus pergi sepihak terus lo sebut itu cinta?”
Verdi menghela nafas panjang. Napas yang bergetar.
Ia sadar, luka Alana bukan karena masa lalu Verdi melainkan karena Verdi tidak memberi pilihan pada Alana untuk bertahan bersamanya.
Air mata jatuh tanpa ia sadari.
“Maaf,” bisiknya.
“Kalau aja gue lebih berani jujur dari awal”
Verdi menatap langit malam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kecil dan pantas merasa begitu.
Namun di balik rasa tak layak itu, ada satu kesadaran yang pelan-pelan tumbuh
kalau ia benar-benar mencintai Alana,
maka satu-satunya hal yang harus ia lakukan sekarang
bukan mendekat dengan ego,
melainkan memperbaiki diri
meski itu berarti menunggu tanpa kepastian.
Dan malam itu, Verdi memilih diam.
Bukan untuk lari,
melainkan untuk menata dirinya
agar suatu hari, jika takdir mengijinkan,
ia bisa kembali tanpa membawa luka yang sama.
Malam itu, Verdi kembali ke rumah sakit.
Lorong panjang berlampu putih terasa dingin dan sunyi. Bau antiseptik menusuk hidung, langkah kakinya bergema pelan di lantai. Setiap langkah seperti membawa beban yang makin berat di dadanya.
Ia berhenti di depan kamar Raina.
Pintu terbuka sedikit. Di dalam, mesin-mesin medis masih bekerja dengan ritme yang sama tiit… tiit…suara yang menandakan hidup, tapi juga ketidakpastian.
Verdi melangkah masuk.
Raina terbaring tak bergerak. Wajahnya pucat, selang oksigen terpasang, dadanya naik turun lemah. Cahaya lampu membuat bayang-bayang tipis di wajahnya wajah yang dulu ceria, penuh tawa, kini diam dalam sunyi yang panjang.
Verdi duduk di kursi samping ranjang.
Tangannya gemetar saat meraih sisi tempat tidur.
“Na” suaranya serak.
“Gue di sini.”
Tak ada jawaban.
Ia menunduk, menatap lantai.
“Gue nggak tau gimana cara nebus semua ini,” lanjutnya pelan.
“Gue nggak pernah niat ninggalin siapa pun.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Novela Juvenil📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
