Enam puluh tiga

16 7 0
                                        

Pagi itu, warung seblak terasa berbeda.

Meja-meja kayu yang biasanya penuh suara tawa kini hanya terisi beberapa pelanggan. Asap dari panci seblak tetap mengepul, tapi kegaduhan yang dulu akrab di telinga Alana seolah ikut menghilang bersama pagi yang sendu.

 Alana berdiri di balik etalase, mengaduk kuah dengan gerakan pelan, pikirannya melayang entah ke mana.

Dini sibuk merapikan botol minum, sesekali melirik Alana yang tampak lebih diam dari biasanya.

“Sepi, ya, Al…” ucap Dini akhirnya, berusaha mencairkan suasana.

Alana mengangguk tipis. “Iya. Kayak… warung ini lagi capek.”

Seorang pelanggan datang, memesan seblak biasa tanpa banyak basa-basi. Tak ada pertanyaan tentang Verdi pagi itu, tak ada candaan receh yang biasa mengisi ruang. Justru keheningan itulah yang membuat hati Alana terasa semakin berat.

Ia melirik kursi favorit di sudut warung kosong. Tak ada gitar, tak ada suara serak yang bernyanyi pelan. Hanya kursi kayu yang diam, seolah ikut menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

Alana menarik napas dalam, mencoba menata perasaannya.Ia tak tahu mengapa pagi yang lengang justru terasa lebih ramai di kepalanya dipenuhi bayangan Verdi, Arkana, dan semua hal yang belum sempat terucap.

Alana berdiri mematung sejenak.

Sendok di tangannya berhenti mengaduk kuah. Pandangannya kosong, menembus uap panas yang naik dari panci. Wajah Verdi kembali muncul di benaknya lebam di sudut bibir, bayangan biru keunguan di rahang, tatapan yang berusaha terlihat baik-baik saja padahal jelas menyimpan luka.

Kenapa dia bisa sampai kayak gitu?

Pertanyaan itu berulang, memukul-mukul kepala Alana tanpa jawaban.

Ia teringat cara Verdi menghindar saat ditanya. Senyum tipis yang dipaksakan. Cara Verdi menunduk ketika Alana membersihkan lukanya, seolah tak ingin ia melihat terlalu dalam. Ada sesuatu yang Verdi sembunyikan dan itu membuat dada Alana terasa sesak.

“Al…” suara Dini memanggil pelan.

Alana tersentak. “Hm?”

“Kamu dari tadi bengong.”

Alana menggeleng cepat, pura-pura sibuk. “Nggak.”

Tapi Dini tahu itu bohong.

Dan Alana tahu, kebohongan itu bahkan tak mampu meyakinkan dirinya sendiri.

Kalau aku tanya lagi, dia bakal jawab nggak?Atau justru makin menjauh?

Alana menggigit bibir bawahnya. Ia kesal bukan pada Verdi, tapi pada dirinya sendiri. Kenapa hatinya masih mudah goyah hanya karena satu wajah yang babak belur? Kenapa kepeduliannya datang tanpa permisi?

Ia menatap kursi kosong itu lagi.

“Kenapa sih kamu selalu bikin aku mikir gini, Ver…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Pagi yang lengang itu terus berjalan, sementara di dalam dada Alana, satu kekhawatiran kecil mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar sesuatu yang belum ia berani namai.

Menjelang siang, suasana warung seblak yang tadinya lengang perlahan berubah.

Satu per satu anak SMA datang. Masih pakai seragam, tas disampirkan sembarang, suara tawa pecah tanpa beban. Bangku-bangku cepat terisi. Ada yang langsung duduk, ada yang sibuk foto-foto dulu, ada juga yang ribut nentuin level pedas.

“Seblak level sepuluh, tapi jangan pedes banget ya, Kak!”

“Lah, itu namanya gimana sih?”

“Eh foto dulu, panas aesthetic banget ini!”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang