duapuluh empat

36 20 0
                                        

Setelah memastikan semua siap untuk renovasi, mereka pulang dengan perasaan lega. Tiga hari ke depan akan sibuk, tapi setidaknya mereka bisa sedikit rehat dari hiruk-pikuk pelanggan.

Sesampainya di rumah, Alana dan Dini langsung membersihkan diri lalu menyiapkan makan malam sederhana.

"Akhirnya bisa makan tanpa gangguan," ujar Dini sambil mengambil sesendok nasi.

Alana mengangguk setuju. "Iya, hari ini lumayan melelahkan. Besok kita mulai renovasi, semoga berjalan lancar."

Mereka makan dalam keheningan sesaat, menikmati waktu tanpa perlu tergesa-gesa seperti saat di warung. Setelah selesai makan dan mencuci piring, mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Sambil berbaring, Alana memandangi langit-langit kamar. "Tiga hari tanpa jualan, tapi tetap sibuk dengan renovasi. Setidaknya nggak ketemu Raka dulu..." pikirnya.

Tak lama, notifikasi ponselnya berbunyi. Dengan malas, ia melirik layar. Sebuah pesan dari Verdi.

"Tidur cepat. Besok gue bantuin warung lo."

Alana hanya tersenyum tipis
setelah itu, ia meletakkan ponselnya dan memejamkan mata, bersiap menghadapi hari esok.

Pagi ini, seperti biasa, Alana dan Dini melakukan kegiatan rutin mereka. Setelah sholat Subuh, mereka membersihkan rumah sebentar, lalu menyiapkan sarapan sederhana.

"Hari ini kita mulai renovasi, kan?" tanya Dini sambil menyeruput teh hangatnya.

Alana mengangguk. "Iya, kita pastikan dulu bahan-bahan dan konsepnya biar nggak ada yang kelewat."

Setelah sarapan, mereka bersiap-siap dan berangkat ke warung. Hari ini suasana terasa berbeda karena warung tidak buka untuk pelanggan, melainkan untuk memperbarui tampilan agar lebih menarik.

Saat tiba, beberapa tukang sudah menunggu di sana, siap untuk memulai pekerjaan. Alana dan Dini segera berdiskusi dengan mereka mengenai perubahan yang akan dilakukan.

Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan warung.

"Wah, lo beneran datang,kirain omong kosong doang ," gumam Alana saat melihat Verdi turun dari motornya.

Verdi melirik santai. "Ya iyalah, gue kan orangnya bertanggung jawab. Jadi, apa yang bisa gue bantu?" tanyanya dengan nada menggoda.

Alana menghela napas panjang. "Bantu aja yang ada, jangan malah bikin repot."

Verdi tertawa kecil sebelum akhirnya ikut membantu mereka menyiapkan renovasi warung.

Alana yang sedang fokus melihat desain warung tiba-tiba merasakan sesuatu mengenai kepalanya.

"aww,apaan sih?!" Alana menoleh dengan wajah kesal.

Verdi sudah memasang ekspresi polos sambil pura-pura sibuk merapikan sesuatu. "Gue nggak ngapa-ngapain, mungkin angin kali," katanya santai sambil mengangkat kedua bahunya.

Alana memungut strofoam yang baru saja mengenainya, lalu menatap Verdi tajam. "Lo pikir gue bego?"

Dini yang melihat kejadian itu langsung tertawa. "Udah deh, Ver. Jangan bikin Alana tambah emosi, nanti lo kena balasannya," godanya.

Verdi hanya cengengesan, lalu kembali fokus sama kerjaan nya. Sementara itu, Alana menghela napas panjang, berusaha mengabaikan tingkah Verdi yang memang selalu jahil padanya.

Alana mulai memasang daun-daun dan sedikit bunga di dekat pintu masuk warung. Ia ingin memberikan sentuhan segar agar suasana warung lebih estetik dan nyaman untuk pelanggan.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang