Malam semakin larut.Lampu kamar tetap redup. Hujan di luar telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah yang masuk lewat celah jendela.
Verdi masih duduk di kursi samping ranjang. Kepalanya tertunduk, satu tangannya bertumpu di paha, yang lain terkulai di sisi kursi.Ia tertidur.
Wajahnya tampak lelah bukan lelah hari ini saja, tapi lelah dari hari-hari panjang menunggu seseorang yang bahkan tidak lagi mengenalnya.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Alana bergerak.Ia terbangun pelan, seperti takut mengganggu malam.Nafasnya masih terasa berat, namun pikirannya lebih jernih dari sebelumnya.Alana menoleh,dan melihat Verdi,duduk di sana.
Tidak pergi.Tidak menyerah.Ia memperhatikan wajah itu lama. Garis lelah di keningnya, rahang yang mengeras bahkan saat tidur, tangan yang menggenggam ujung jaketnya seolah takut kehilangan sesuatu.
Potongan ingatan kembali menyusup.
Suara hujan.Diam yang nyaman. Kehadiran tanpa tuntutan.Air mata kembali menggenang di mata Alana, kali ini tanpa jerit.
"Verdi" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia menggeser tangannya perlahan dari selimut, bergerak sangat pelan agar tidak membangunkannya. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Verdi yang dingin.Sentuhan itu ringan. Ragu.
Namun tepat saat itu, dada Alana terasa hangat seperti sesuatu di dalam dirinya akhirnya menemukan tempatnya.
"Aku belum ingat semuanya," katanya pelan pada dirinya sendiri. "Tapi aku ingat rasa ini."
Ia menelan isak.
"Maaf aku melupakanmu paling lama"
Verdi sedikit bergerak dalam tidurnya, keningnya berkerut, tapi matanya tetap terpejam Alana tersenyum kecil di antara air mata.Untuk pertama kalinya, ia tidak takut pada ingatan yang kembali.
Karena kini, ia tahu ke mana harus pulang.
Di kamar yang sunyi itu, satu tertidur karena lelah menjaga,dan satu terjaga karena cinta yang perlahan menemukan namanya kembali.
Verdi terbangun perlahan.
Bukan karena suara, melainkan karena rasa seperti ada kehangatan kecil yang menyentuh punggung tangannya.
Ia mengedipkan mata, masih setengah sadar.Lalu ia melihat Alana.terjaga.
Menatapnya.Dengan mata yang basah, namun tenang.Untuk sesaat, Verdi lupa bernapas.
"Al?" suaranya serak, nyaris takut jika ini hanya ilusi karena kurang tidur.
Alana tidak menjawab langsung. Tangannya masih menyentuh punggung tangan Verdi, ragu tapi nyata.
"Aku bangun," katanya pelan. "Dan kamu masih di sini."
Verdi menegakkan tubuhnya perlahan, berusaha tidak terlihat panik.
"Iya," jawabnya hati-hati. "Aku ketiduran. Maaf."
Alana menggeleng kecil.
"Jangan minta maaf."
Hening jatuh di antara mereka, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda yang penuh makna.
"Aku belum ingat semuanya," ucap Alana jujur. "Masih acak. Masih sakit."
Verdi mengangguk, matanya tidak lepas dari wajah itu.
"Tidak apa-apa."
"Tapi" Alana menarik napas, dadanya naik turun. "Aku ingat beberapa hal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
