duapuluh tujuh

46 31 0
                                        

Raka masih duduk santai di meja depan, memainkan sendok sambil sesekali melirik ke arah Alana yang sibuk di dapur.
Senyumnya masih sama — senyum yang dulu pernah bikin Alana jatuh hati, tapi sekarang justru bikin risih.

Sementara itu, Verdi di balik meja minuman terlihat sedang mixer jus jeruk.
Tapi dari wajahnya, jelas banget kalau dia lagi kesel setengah mati.
Nada Raka yang sok akrab, cara dia manggil Alana, semua bikin darah Verdi mendidih pelan.

“Jus jeruk satu, ya,” kata Raka dengan nada santai.
Verdi cuma mengangguk singkat tanpa menatap. Tangannya bekerja cepat — memeras jeruk, menuang air, lalu…
dia mengambil wadah kecil di samping blender.

Dini yang dari jauh memperhatikan sedikit terheran.

Verdi menahan tawa kecil di sudut bibirnya.
“Biarin aja,” pikirnya. “Rasain dikit, biar gak usah sok manis depan Alana lagi.”

Setelah jusnya selesai, Verdi menaruhnya di meja depan dengan ekspresi netral.
“Ini jus jeruknya, Bang. Gak tau deh tadi aku masukin gula atau garam. Tangan refleks aja,” katanya santai.

Raka ngambil gelas itu tanpa curiga, lalu meneguk satu kali — dan langsung menahan ekspresi.
Wajahnya berubah, alisnya terangkat, dan mulutnya sedikit meringis.
“Ini… jus jeruk rasa laut, ya?” katanya dengan nada bercanda, meski jelas kepedesan asin.

Dini hampir ngakak di belakang, sampai-sampai nutup mulutnya pakai celemek.
Sementara Verdi cuma pura-pura bingung, “Eh, masa sih? Waduh, salah kali, tadi tempat gula sama garam ketuker…”

Raka menatap Verdi lekat-lekat, tahu kalau itu bukan “ketidaksengajaan.”
Tapi dia malah senyum kecil. “Gapapa deh, yang penting masih dari tangan Alana.”

Verdi menatap tajam, “Dari tangan gw, Bang.”

Suasana mendadak jadi tegang tapi lucu, pelanggan di meja sebelah bahkan ikut melirik karena ngerasa vibe-nya agak awkward tapi seru.
Sementara Alana cuma bisa nutup wajah pakai tangan, nahan tawa sekaligus malu.

“Udah ah, dua-duanya kayak bocah,” katanya akhirnya, lalu pergi ke dapur biar gak ikutan terseret suasana.

Raka meneguk sisa jusnya pelan, lalu berdiri. “Lain kali gue pesen yang manis aja, ya. Tapi bukan jusnya.”
Dia lempar pandangan ke arah Alana sebentar sebelum pergi, ninggalin Verdi yang masih berdiri dengan wajah datar tapi mata sedikit menyipit.

Begitu Raka keluar, Dini langsung nyeletuk, “Ver, itu beneran ketuker gula sama garam?”
Verdi menjawab tanpa ekspresi, “Mungkin… hati aku aja yang ketuker.”

Dini dan Alana langsung kompak, “Hah???”

Malam itu warung seblak makin ramai. Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berayun lembut ditiup angin. Pasangan muda tampak duduk berdekatan, sebagian bersandar di bahu pasangannya sambil menunggu pesanan datang.

Alana menatap pemandangan itu dengan wajah lelah bercampur geli.
“Warung seblak rasa tempat kencan,” gumamnya pelan sambil menyeka keringat di kening.

Dini yang lewat membawa nampan langsung nyeletuk,
“Makanya, Lan, biar gak kalah, lo juga cari pasangan. Lihat tuh, Verdi dari tadi lihatin lo.”

“Apaan sih, Din!” sahut Alana, pura-pura sibuk menghitung uang kembalian padahal pipinya memerah.

Tak lama, suasana warung sedikit berubah ketika Verdi mulai memainkan gitar di pojok ruangan.
Nada-nada pelan mengalun, dan anak-anak Gen Z yang nongkrong langsung bersorak kecil.

“Bang, nyanyi lagu viral itu dong!” seru salah satu pengunjung sambil merekam pakai HP.

Verdi hanya tersenyum, lalu menatap sekilas ke arah Alana.
“Oke, tapi jangan baper ya,” katanya santai.

Semua tertawa, termasuk Dini. Tapi Alana cuma diam—menunduk, pura-pura sibuk, padahal jantungnya berdetak cepat.

Verdi mulai menyanyikan lagu dengan suara lembut tapi penuh makna:

---

🎶

Tapi andai engkau tahu, sungguh, aku sangat rindu
Dan biarkanlah angin sampaikan rinduku (padamu)
Dan biarkanlah waktu yang sembuhkan diriku
Kar'na takkan ada yang bisa gantikanmu saat ini
Malam yang berat kali ini merindumu lagi

Dan masihkah kau mengingat diriku?
Takkan apa (takkan apa) kau t'lah lupa (kau t'lah lupa)
Dan biarkan masa tiba cerahkan hari
Aku sudah (sudah) 'tuk terima (terima)
Biar ku sembuh sendiri
Tapi andai engkau tahu, sungguh, aku sangat rindu (sangat rindu)
Dan biarkanlah angin sampaikan rinduku
Dan biarkanlah waktu yang sembuhkan diriku
Kar'na takkan ada yang bisa gantikanmu saat ini

🎶

---

Suara Verdi memenuhi ruangan, lembut tapi menggigit di hati.
Beberapa pasangan ikut bersenandung pelan, bahkan ada yang merekam dan bilang, “Gila, vibes-nya dalem banget!”

Alana terdiam di balik meja kasir. Tatapan Verdi beberapa kali jatuh padanya, dan setiap kali itu terjadi, ia buru-buru menunduk.

Dini yang memperhatikan dari jauh cuma senyum-senyum, lalu berbisik ke karyawan lain,
“Udah fix, lagu itu buat Alana.”

Begitu lagu berakhir, suasana seketika hening, lalu disambut tepuk tangan kecil dari para pengunjung. Verdi menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis.

Alana meliriknya sekilas — senyum kecil juga muncul di bibirnya, tapi cepat-cepat ia hapus dan berpura-pura sibuk lagi.

Dalam hati, dia bergumam,
“Kenapa harus lagu itu, Ver… dan kenapa harus tatapan itu juga?”

Malam makin larut, pelanggan mulai pulang satu per satu.
Tapi di kepala Alana, lirik lagu tadi terus berputar — seolah Verdi memang sengaja menaruh sebagian isi hatinya di dalam nada-nada itu.

Malam makin larut, lampu-lampu di warung seblak mulai diredupkan. Para pengunjung terakhir sudah pergi, meninggalkan meja-meja dengan sisa tisu dan gelas plastik. Hujan rintik turun pelan, menambah suasana tenang setelah hiruk pikuk malam yang panjang.

Alana menyapu lantai sambil bersenandung kecil, tanpa sadar nada yang ia nyanyikan adalah potongan dari lagu yang Verdi bawakan tadi.
Dini yang memperhatikan dari dekat cuma nyengir, “Tuh kan… masih kebawa vibes-nya, ya?”

Alana langsung berhenti menyapu, wajahnya memerah. “Apaan sih, Din. Gue cuma iseng.”

“Iseng, tapi nyanyiin lagu yang tadi dinyanyiin Verdi,” goda Dini, tertawa kecil sambil membereskan kursi.
Sementara itu, Verdi yang sedang merapikan gitar hanya senyum tipis. “Kalau isengnya sampai hafal reff-nya, berarti bukan iseng lagi, Lan.”

“Udah ah, tutup aja warungnya, gue ngantuk,” elak Alana cepat sambil menurunkan rolling door.
Dini dan Verdi saling pandang lalu tertawa kecil.

Begitu semua beres, mereka pun keluar bersama. Dini menyalakan motor bebek kesayangannya, sementara Verdi berjalan pelan di belakang, membawa gitar di pundak.

Di perjalanan pulang, angin malam berhembus lembut. Jalanan basah, lampu-lampu kota memantul di genangan air, menciptakan bayangan warna-warni yang menenangkan.

Sesampainya di kontrakan, Alana langsung merebah di sofa.
“Capek banget. Tapi seru juga, ya, malam ini,” katanya pelan.

Dini yang baru menaruh helm menatapnya curiga. “Seru karena rame, atau karena ada yang nyanyi buat lo?”

Alana menatap Dini tajam, lalu melempar bantal kecil ke arahnya.

“Lan…” panggil Dini pelan, nadanya udah mencurigakan banget.
Alana melirik sekilas, “Apa lagi, Din?”

Dini berbalik tengkurap, dagunya bertumpu di tangan. “Tadi siang Verdi hampir ngebunuh Raka pake garam, itu beneran refleks atau refleks cemburu, hmm?”
Alana langsung menghela napas panjang. “Udah deh, jangan mulai…”

“Tidur sana, Din, sebelum gue cabein mulut lo.”ujar alana kesel.

Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis

Jangan lupa vote and komen nya gays💙💐

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang