Tujuh puluh empat

5 1 0
                                        

Hari-hari setelah itu berjalan lebih tenang.

Tidak ada lagi bunga misterius.

Tidak ada lagi tatapan mencurigakan dari kejauhan.

Warung seblak kembali menjadi tempat yang ramai, hangat, dan penuh tawa.

Verdi jadi lebih sering datang. Kadang membantu angkat galon, kadang hanya duduk menemani Alana bekerja. Tidak banyak bicara, tapi selalu ada. Alana pun terlihat berbeda senyumnya lebih mudah muncul, langkahnya lebih ringan.

Mereka tidak mengumumkan apa pun.

Tidak mendefinisikan hubungan dengan kata-kata besar.Tapi semua orang bisa merasakannya mereka bahagia dengan cara yang sederhana.

Suatu sore, langit cerah dan angin berhembus pelan, suara motor terdengar mendekat bukan satu, tapi lima.

Lima motor besar berhenti berjejer di depan warung seblak.

Alana refleks menoleh.

Dini berhenti mengelap meja.

Lima cowok turun hampir bersamaan. Postur tinggi, jaket hitam, senyum percaya diri. Aura mereka langsung mencuri perhatian pelanggan.

Verdi yang sedang duduk, berdiri pelan. Alisnya terangkat sedikit.

“Lama nggak kelihatan lo, Ver,” salah satu dari mereka menyeringai.

Verdi tersenyum kecil. “Kalian juga,ngapain kalian kesini.”

Mereka adalah teman-teman dekat Verdi. Orang-orang yang tahu hidup Verdi sebelum ia menetap di kota kecil ini. Tapi masa lalu itu tidak ikut datang hari ini yang ada hanya tawa, keusilan, dan rasa penasaran.

Pandangan kelima cowok itu hampir bersamaan tertuju pada Alana.

“Jadi ini,” kata salah satu sambil bersiul kecil, “alasan lo betah di sini?”

Alana refleks menunduk, pipinya menghangat.

Verdi melirik tajam, tapi senyumnya tetap tenang. “Jaga omongan.”

Mereka tertawa, bukannya takut justru makin penasaran.

Salah satu dari mereka mendekat ke meja kasir, pura-pura membaca menu.

“Seblaknya satu. Bonus senyum mbaknya, boleh?”

Dini mendecak pelan. “Buaya.”

Alana mencoba tetap profesional, tapi jelas kikuk. Tatapan mereka bukan kasar lebih ke usil, ingin tahu, dan sedikit kagum.

“Kita cuma penasaran,” ujar yang lain santai. “Cewek yang bikin Verdi jatuh sedalam ini pasti spesial.”

Verdi tidak menyangkal.

Itu cukup.Di antara lima cowok itu, satu orang justru diam sejak tadi.

Ia berdiri agak ke belakang. Jaketnya rapi, wajahnya tenang, tapi matanya terus tanpa sadar mengikuti gerak Dini.

Saat Dini berjalan melewatinya membawa nampan, mata mereka bertemu.

Hanya sedetik.Tapi cukup untuk membuat jantung keduanya sama-sama berhenti sebentar.Dini mengernyit pelan. Ada rasa familiar yang aneh.Faris menelan ludah.

“Aku kayak pernah ketemu dia,” gumam Faris dalam hati. Entah di mana. Entah kapan.

Dini juga merasakannya.Saat Dini kembali ke dapur kecil, Faris berdiri kaku. Salah satu temannya menyenggol bahunya.

“Kenapa lo bengong?”

“Nggak apa-apa,” jawab Faris cepat, terlalu cepat.

Padahal tangannya dingin.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang