Malam itu taman terasa berbeda.
Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak menyala temaram, angin bergerak pelan, dan suara kota terdengar jauh seolah memberi ruang hanya untuk mereka berdua.
Alana duduk di bangku taman, tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia tak tahu kenapa Verdi mengajaknya ke sini, tapi dadanya berdebar sejak langkah pertama.
Verdi berdiri beberapa langkah di depannya. Jaket hitamnya terbuka, wajahnya masih menyisakan lebam yang belum sepenuhnya hilang. Ia menatap Alana lama, terlalu lama, sampai Alana akhirnya berdeham.
“Ver,” ucap Alana pelan. “Kenapa ngajak gue ke sini?”
Verdi menghela nafas panjang. Tangannya gemetar, lalu ia menyelipkannya ke saku celana sebuah kebiasaan saat ia gugup.
“Karena gue takut,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Kalau gue tunda lagi gue bakal kehilangan lo beneran.”
Alana terdiam.
Verdi melangkah lebih dekat, lalu duduk di bangku seberang. Jarak mereka hanya satu lengan, tapi terasa seperti jurang yang selama ini memisahkan.
“Al,” lanjutnya, “selama ini gue selalu ngerasa gue nggak layak. Hidup gue ribet, masa lalu gue berantakan, dan gue pikir lo pantas dapet orang yang lebih utuh.”
Ia tersenyum pahit. “Kayak Arkana.”
Nama itu membuat Alana refleks menegang.
“Tapi setiap gue liat lo ketawa sama orang lain,” Verdi menunduk, “gue sadar satu hal gue egois. Karena ternyata gue nggak siap kehilangan lo.”
Verdi mengangkat kepalanya, menatap Alana lurus-lurus.Tidak ada bercanda. Tidak ada gitar. Tidak ada senyum usil.
“Gue cinta sama lo, Alana.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat di hati.
Alana tercekat. Dunia di sekelilingnya seperti melambat. Dadanya naik turun, air mata menggenang tanpa ia sadari.
“Gue cinta dari pertama kali ketemu,” lanjut Verdi dengan suara bergetar. “Dari cara lo sok kuat tapi sebenarnya lembut. Dari tiap hari gue pura-pura cuek padahal cuma pengen duduk di depan lo.”
Ia mengusap wajahnya kasar. “Dan gue minta maaf. Karena baru sekarang gue berani ngomong.”
Hening menyelimuti mereka. Angin malam menggerakkan daun-daun, seolah ikut menunggu jawaban.
Alana berdiri perlahan. Ia mendekat, berhenti tepat di depan Verdi.
“Lo tau,” katanya lirih, “yang paling nyakitin dari semua ini bukan karena lo pergi tapi karena gue nunggu.”
Air matanya jatuh. Verdi ikut berdiri, ragu untuk menyentuh.
“Tapi…” Alana menarik napas, menenangkan dirinya. “Gue juga cinta sama lo, Verdi. Dari dulu.”
Verdi tertegun. Matanya merah, nafasnya tercekat.
“Cuma satu hal,” lanjut Alana tegas tapi lembut.
“Kalau lo mau ada di hidup gue, lo harus berani bertahan. Bukan datang dan pergi sesuka hati.”
Verdi mengangguk cepat. “Gue janji. Kali ini gue tinggal.”
Malam itu, di taman yang sederhana, tak ada pelukan berlebihan atau janji manis berlebihan.Hanya dua orang yang akhirnya jujur pada perasaannya
setelah terlalu lama saling diam.
Verdi menatap Alana dengan sorot mata yang berbeda lebih tenang, lebih yakin, seolah semua ketakutan yang selama ini membebaninya akhirnya runtuh.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk memastikan suaranya sampai ke hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
