Pria itu menoleh kembali ke arahnya. "Hati-hati, ya." katanya dengan nada misterius, lalu berjalan melewati Alana dan menghilang ke lorong rumah sakit.
Setelah menunggu cukup lama, hujan akhirnya mulai mereda. Alana segera memesan ojek online dan bergegas pulang. Selama perjalanan, pikirannya masih dipenuhi oleh kejadian aneh di rumah sakit, terutama pria misterius yang menabraknya tadi.
Begitu sampai di kontrakan, Alana membuka pintu dan menemukan Dini sedang duduk di sofa sambil ngemil keripik.
"Lama banget, sih! Lo dari mana aja?" tanya Dini begitu melihat Alana masuk dengan jaket yang masih sedikit basah.
Alana melempar tasnya ke sofa dan menghela napas panjang. "Gue ke rumah sakit, jenguk Verdi."
Dini langsung menoleh. "Hah? Verdi kenapa?"
"Pingsan waktu pulang kerja."
Dini mengernyit. "Serius? Terus dia kenapa sekarang?"
"Udah sadar, tapi dia sendiri nggak ngasih tau kenapa pingsan."
Dini mengunyah keripiknya pelan,dan mengangguk
Alana terdiam sesaat. "Din... tapi ada satu hal aneh lagi yang terjadi di rumah sakit tadi."
Dini meletakkan bungkus keripiknya dan menatap Alana serius. "Apaan?"
Alana mengambil posisi duduk dan menceritakan tentang pria misterius yang menabraknya di rumah sakit.
Dini mendengarkan dengan ekspresi serius,dan menjawab "Palingan orang mau buru,Al"
Alana menggigit bibirnya. Dalam hati, dia tahu Dini benar. Ada sesuatu yang salah.
"Oh iya, Din. Gimana soal orang yang mesen seblak tadi? datang?"
Dini mengangguk sambil tersenyum. "Alhamdulillah, lancar. Orangnya datang tepat waktu, bayarnya juga langsung lunas. Gak ada drama sama sekali."
Al menghela napas lega. "Syukurlah. Gue tadinya khawatir kalau ada masalah."
Dini tertawa kecil. "Santai aja, Al. Gue bisa handle kok. Lagian, kalau ada yang aneh, pasti gue langsung kabarin lo."
Al tersenyum tipis. "Iya, gue percaya kok. Yaudah, sekarang gue mau mandi dulu. Badan gue masih agak lengket gara-gara hujan tadi."
Dini mengangguk. "Sip! Abis itu kita makan, gue udah pesen ayam geprek."
Al hanya mengacungkan jempol sebelum beranjak ke kamar mandi, merasa sedikit lebih tenang karena semuanya berjalan lancar hari ini.
Pagi-pagi, Alana dan Dini sudah sibuk bersiap untuk berangkat ke warung seblak mereka.
Alana mengambil kunci motor dan menoleh ke Dini. "Yaudah, ayo berangkat."
Dini langsung mengambil tasnya dan mengikuti Alana keluar. Mereka berdua pun berangkat menuju warung seblak mereka, siap menghadapi hari yang sibuk.
Sesampainya di warung, benar saja, karyawan mereka sudah menunggu di sana. Beberapa dari mereka sudah mulai bersiap-siap, ada yang menyapu lantai, ada yang menata meja, dan ada juga yang mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
"Pagi, Kak Alana, Kak Dini!" sapa salah satu karyawan.
"Pagi! Udah pada siap kerja, kan?" tanya Dini dengan senyum.
"Siap, Kak!" jawab mereka serempak.
Alana mengangguk. " kita harus kompak biar semuanya berjalan lancar."
Mereka pun langsung mulai bekerja, menata bahan-bahan, memanaskan wajan, dan memastikan semua siap sebelum pelanggan mulai berdatangan. Hari yang sibuk pun dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Jugendliteratur📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
