Keesokan harinya.Warung seblak kembali ramai. Seperti biasa, pelanggan Gen Z sibuk live, foto, dan bercanda. Alana sedang mengantar pesanan saat seseorang berdiri di depan kasir.
Bukan Raka.Bukan Verdi.Arkana.
Kali ini tampil rapi. Kemeja gelap, jam tangan sederhana. Tatapannya tenang.
“Seblak level satu,” katanya santai.
“Dan es teh manis.”
Alana mengangguk profesional, tapi jelas terkejut.
“Oh. Iya.”
Saat Alana berbalik, Arkana bicara lagi pelan tapi terdengar jelas.
“Alana.”
Langkah Alana terhenti.
“Aku nggak mau jadi orang yang datang cuma buat ganggu hidup kamu,” ucap Arkana jujur.
“Aku juga nggak mau kamu milih siapapun sekarang.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku cuma mau kamu kenal aku sebagaimana aku berjuang buat kamu.”
Hening sepersekian detik.
Dari sudut warung, Verdi melihat ke arah mereka. Tangannya berhenti memetik gitar. Tatapannya tertuju pada Arkana.tajam, tapi kali ini waspada.
Alana menelan ludah.Dadanya terasa aneh.Ini bukan godaan.tapi seperti tekanan.
Di saat itu juga Raka datang.
Pintu warung seblak terbuka agak keras,berbunyi nyaring. Raka masuk dengan gaya santainya yang khas senyum sok percaya diri, tangan dimasukkan ke saku jaket.
“Wah rame,” katanya sambil menoleh ke kanan-kiri.Lalu matanya berhenti di satu titik.Alana. Arkana. Verdi.Lengkap.
Raka mendecih pelan, lalu tertawa kecil.
“Buset, hari ini warung lo bonus drama ya, Al?”
Alana menghela nafas panjang. Tangannya refleks menggenggam nampan lebih erat.
“Raka, gue lagi kerja,” ucapnya dingin.
“Kalau mau pesan, pesan. Kalau enggak”
“lah, santai,” potong Raka sambil melirik Arkana dari atas ke bawah.
“Cuma kaget aja. Kok sekarang banyak banget yang ngantriin lo?”
Beberapa pelanggan mulai melirik. Ada yang senyum-senyum, ada yang sengaja pura-pura sibuk tapi jelas kepo.
Verdi berdiri dari kursi favoritnya. Suaranya tenang, tapi nadanya tajam.
“Pesan apa, Rak?”
Raka menoleh, menyeringai.
Beberapa pelanggan tertawa. Ada yang nyeletuk pelan,“Fix sinetron.”
Alana menutup mata sebentar, lalu membuka lagi.Cukup.
“Raka,” katanya tegas.
“Pesan atau pergi,” potong Alana tanpa ragu.
“Satu menit.”Hening.
Raka menatap Alana lama. Untuk sesaat, tidak ada godaan di wajahnya.hanya ego yang terusik.
Akhirnya ia terkekeh, mundur setengah langkah.“Yaudah,” katanya.
“Gue pesan. Tapi inget, Al cerita ini belum kelar.”
Raka berbalik ke kasir.Di luar warung, Arkana yang tadi sempat mundur, kini menatap ke dalam dari balik kaca. Tatapannya gelap dan sulit diartikan. Tangannya mengepal pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Fiksi Remaja📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
