Pas mereka baru saja turun dari bianglala, suasana pasar malam tetap ramai. Lampu-lampu berkelap-kelip, aroma gulali dan jagung bakar masih menyelimuti udara.
Tiba-tiba, dari kerumunan, seorang nenek tua dengan senyum ramah berjalan mendekat. Matanya berbinar, langkahnya yakin, dan tanpa basa-basi, ia langsung memeluk Verdi.
“Sayangku… akhirnya ketemu juga!” kata nenek itu penuh semangat.
Verdi tersentak, wajahnya memerah seketika.
“Eh… eh… nenek?!” gumamnya gugup sambil mencoba melepas pelukan itu.
Alana yang menyaksikan dari samping, menahan tawa, tapi gagal. “Hahaha, Verdi! Keliatan banget kagetnya!”
Verdi mundur beberapa langkah, masih memegang gulali di tangan, matanya lebar, lidah kelu.
“Nenek… itu… eh… aku bukan… aku—”
Dan di tengah lampu pasar malam, suara tawa Alana terdengar paling lantang,
sementara Verdi tetap malu tapi diam-diam merasa hangat.
Nenek itu masih menempel erat pada Verdi, tidak mau bergeser sedikit pun.
“Sayang… jangan lari-lari dari nenekmu! Kamu pacar nenek, ingat itu!” serunya lantang.
Verdi menelan ludah. Wajahnya merah, tangan gemetar.
“Nenek… aku… eh… ini nggak kayak gitu…”
Alana yang berdiri di samping tak bisa menahan diri. Ia menepuk bahu Verdi, senyum nakal di wajahnya.
“Wih, Verdi, kok ketakutan gitu sih? Nenekmu serius banget!”
Nenek menoleh ke arah Alana, mata melotot dramatis.
“Dan kamu… cewek ini… jangan ganggu pacar nenek ya! Pelakor!”
Alana tertawa terbahak.
“Pelakor? Hahaha, nenek, aku cuma godain dia!”
Verdi menutup wajah dengan tangan, hampir tersedak malu.
“Lan… serius… jangan ketawa…”
Alana malah makin usil. Ia mencondongkan tubuh ke arah Verdi, menepuk pundaknya sambil menggoda
Nenek tetap tak mau melepaskan pelukan.
“Biar nenek yang pegang! Dan ingat kamu pacar nenek! Jangan coba-coba kabur!”
Alana menahan tawa sambil menyenggol Verdi lagi.
Verdi menatap Alana panik, tapi tak bisa bicara.Nenek itu tertawa puas, masih memeluknya erat.
Di tengah pasar malam yang ramai, terdengar tawa Alana paling lantang.
Verdi malu setengah mati, tapi ada rasa hangat yang tak bisa ia bantah.
Dan malam itu, godaan Alana dan pelukan nenek yang keras kepala membuat Verdi sadar bahwa terkadang malu bisa berubah jadi sesuatu yang manis.
Nenek itu masih menempel erat pada Verdi, tidak mau bergeser sedikit pun.
Alana yang berdiri di samping tak bisa menahan diri. Ia menepuk bahu Verdi, senyum nakal di wajahnya.
“Wih, Verdi, kok ketakutan gitu sih?
Nenek menoleh ke arah Alana, mata melotot dramatis.
Verdi akhirnya nekat menarik napas panjang. Ia menatap nenek yang masih menempel padanya.
“Nenek… eh… aku cuma mau bilang… aku senang dipeluk, tapi… kaki aku udah pegal, nih,” kata Verdi setengah canggung, setengah panik.
Nenek menatapnya dengan mata berbinar.
“Pe… pegal? Sayang nenek tuh berat?”
Verdi menelan ludah. “Bukan
maksudnya kaki aku capek berdiri lama eh, gitu aja.”
Alana yang dari tadi duduk sambil menahan tawa, langsung menyenggol Verdi lagi.
“Waduh, sayang, jangan bilang capek doang, nanti nenek mikir kamu lemah! Hahaha!”
Verdi menatap Alana panik.
“Al jangan!”
Alana malah mencondongkan tubuh ke depan, menepuk pundak Verdi dengan nakal.
“Verdi, serius kamu tuh gemesin banget kalo malu-maluin gini.”
Verdi hanya bisa menatap nenek dan Alana, wajah merah padam.
Di tengah lampu pasar malam yang berkelap-kelip, aroma jajanan dan tawa anak-anak di sekitar, ada satu hal yang jelas Verdi malu setengah mati, tapi bahagia dan Alana? Ia semakin nakal, tapi hatinya hangat. Nenek? Tetap keras kepala, tapi senang.
Malam itu, ketiganya menjadi trio paling kocak di pasar malam satu malu setengah mati, satu usil tanpa ampun, satu keras kepala tapi hangat.
Setelah sedikit ngobrol dan tertawa, nenek itu akhirnya mau pergi.
Anaknya menuntun nenek ke motor, menepuk punggungnya lembut.
“Sudah, nenek. Jangan ganggu pacar orang lagi,” kata anaknya sambil tersenyum tipis.
Nenek tertawa lebar, menepuk pundak Verdi sekali lagi sebelum naik motor.
“Sayangku jangan lupa makan malam, ya!” katanya, sambil melambai ke Verdi.
Motor melaju perlahan meninggalkan pasar malam, lampu-lampu berkelap-kelip, meninggalkan jejak canda dan tawa.
Verdi menatap ke arah nenek yang pergi, lalu menoleh ke Alana.
“Al aku nggak habis pikir”
Alana menahan tawa, lalu mencondongkan tubuh ke Verdi, matanya berbinar nakal.
“Eh, pacar nenek takut ya?” godanya sambil menepuk pundaknya ringan.
Verdi menelan ludah, wajahnya merah padam.
Alana malah semakin usil. Ia menyenggol bahu Verdi, memiringkan kepala sambil tersenyum lebar.
“Ah, sayang malu-malu gini lucu banget! Mau nggak aku godain terus sampai kita pulang?”
Verdi menutup wajahnya dengan kedua tangan, hampir tersedak malu.
Alana tertawa lagi, hampir berguling dari bangku.
“Tapi nggak bisa kamu tuh terlalu imut kalo malu-malu gini! Hahaha!”
Verdi menghela napas panjang, menatap Alana setengah kesal, setengah senang.
“Ya ampun ini aku nggak bakal sembuh dari malu malam ini”
Dini yang dari jauh melihatnya hanya tersenyum tipis, sementara Faris menahan tawa juga.
Di tengah pasar malam yang masih ramai, lampu-lampu berkelap-kelip, aroma jajanan masih hangat, dan suara tawa anak-anak tetap terdengar, Alana tetap jadi “penguasa usil” sementara Verdi jadi korban manisnya, tapi keduanya tetap tertawa bersama hangat, riang, dan sedikit canggung.
Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksinya,satu saran dari kalian sangat bermanfaat bagi penulis
Jangan lupa follow vote and komen nya gays💙💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
