Pagi harinya, Alana kembali menjalani rutinitas seperti biasa membuka warung seblak bersama Dini. Meski masih sedikit kepikiran soal mimpinya tadi malam, ia memilih untuk mengabaikannya dan fokus bekerja.
"Al, lo kenapa? Mukanya kayak kurang tidur," tanya Dini sambil menyusun bahan-bahan seblak.
Alana menguap kecil sebelum menjawab, "Biasa, semalam kebangun gara-gara mimpi aneh."
Dini mengangkat alis. "Mimpi apa? Jangan-jangan mimpi buruk?"
Alana menggeleng. "Nggak tahu deh, aneh aja. Ada Raka sama Verdi di mimpi gue."
Dini langsung menyeringai. "Wih, fix! Ini pasti pertanda lo harus milih salah satu! Waktu lo semakin sedikit, Al!" katanya dramatis.
Alana mendesis kesal. "Apaan sih, Din? Mimpi doang kali!"
Dini tertawa kecil. "Yaudah, yaudah. Tapi kalau beneran kejadian, jangan lupa gue yang pertama tahu, ya!"
Alana hanya mendengus dan mulai sibuk menyiapkan pesanan pelanggan pertama pagi itu. Warung mulai ramai karena hari masih libur, dan seperti biasa, mereka berdua kewalahan melayani pelanggan.
Namun, di tengah kesibukan itu, Alana tetap merasa ada yang mengganjal. Mimpinya tadi malam terasa begitu nyata, dan entah kenapa, ia merasa itu bukan sekadar bunga tidur biasa.
Alana menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir semua pikiran aneh tentang mimpinya tadi malam. "Udahlah, nggak usah dipikirin. Gue harus fokus kerja," gumamnya dalam hati.
Ia pun kembali sibuk menyiapkan pesanan pelanggan, memastikan semua berjalan lancar. Dini, yang melihatnya mulai serius lagi, hanya tersenyum kecil.
"Nah, gitu dong, Al! Jangan kebanyakan mikirin yang aneh-aneh. Fokus aja jualan, biar duitnya makin lancar!" ujar Dini sambil memasukkan seblak ke dalam wadah.
Alana mengangguk. "Iya, iya. Udah, kita kerja aja!"
Hari itu, warung mereka lebih ramai dari biasanya. Banyak pelanggan dari berbagai kalangan datang, terutama anak-anak sekolah dan mahasiswa yang menikmati waktu liburan mereka.
Alana dan Dini pun bekerja dengan semangat, melayani pelanggan tanpa sempat lagi memikirkan hal-hal yang mengganggu pikiran. Setidaknya, untuk sementara waktu, Alana bisa melupakan mimpi anehnya dan hanya fokus pada pekerjaannya.
Tak lama setelah warung mulai ramai, tiba-tiba suara yang sangat dikenali Alana terdengar.
"Alanaaa! Aku dateng lagi nih! Kangen, kan?!"
Alana yang sedang menuang kuah seblak langsung gemetar sedikit. Ia menoleh perlahan dan, benar saja, Raka sudah berdiri di depan warung dengan senyum lebar khasnya.
"Astaga… kenapa dia muncul lagi?!" gumam Alana panik.
Dini yang melihat ekspresi sahabatnya langsung menahan tawa. "Wah, fans setia lo dateng lagi, Al! Hahaha!"
Raka melambaikan tangan dengan penuh semangat. "Hai, Alana! Aku belum dapet nomor asli kamu, lho. Masa aku harus pesen seblak 100 porsi lagi?" godanya sambil menyengir jahil.
Alana menelan ludah. "Lo mau beli atau mau gangguin gue lagi, sih?!" tanyanya dengan suara sedikit gemetar.
Raka tertawa santai. "Dua-duanya dong! Aku mau beli seblak… plus dapetin perhatian kamu!"
Dini langsung ngakak di belakang. "Wah, wah! Al, lo harus kasih penghargaan ke dia nih. Gigih banget usahanya!"
Alana mendesah panjang. "Ya Allah, kenapa cobaan pagi ini seberat ini…" gumamnya dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Roman pour Adolescents📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
