Dini tahu ada yang berubah sejak pagi.Alana pamit tanpa banyak kata, hanya menyebutkan satu kalimat pendek, “Aku ke rumah sakit sebentar.”
Nada suaranya terlalu datar untuk sesuatu yang terdengar biasa.
Dini duduk di kontrakan yang mendadak terasa lebih sempit. Pikirannya berulang ke cerita semalam tentang lorong rumah sakit, tentang sosok yang mirip Verdi, tentang perasaan Alana yang tak selesai.
Alana bukan tipe yang mudah terpengaruh bayangan. Kalau sampai ia kembali ke sana, berarti ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.
Menjelang siang, Dini mulai mondar-mandir. Ia membuka ponsel, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Tak ingin menekan, tapi juga tak sanggup sepenuhnya diam.
Ketika pintu akhirnya terbuka, Dini langsung berdiri.Alana masuk dengan langkah pelan. Wajahnya lelah, bukan lelah fisik melainkan lelah yang tinggal di mata.
“Nggak ketemu?” tanya Dini, langsung ke intinya.
Alana menggeleng.
Dini mengangguk pelan. Ia tak bertanya lebih jauh. Tak semua hal butuh penjelasan ulang.
Ia menuangkan segelas air dan menyodorkannya. “Duduk dulu.”
Alana menurut. Tangannya gemetar saat menerima gelas itu.
Dini duduk di depannya. Menatap sahabatnya lama. “Kamu sudah berusaha. Itu cukup.”
“Aku cuma pengen yakin, Din,” ucap Alana lirih. “Biar kalau ini memang cuma bayangan aku bisa benar-benar ninggalinnya.”
Dini menghela napas. “Kadang Allah nggak ngasih jawaban lewat pertemuan. Tapi lewat ketiadaan.”
Alana terdiam.
Dini meraih tangan Alana, menggenggamnya erat. “Apapun yang kamu lihat kemarin, itu bukan buat ngerusak kamu. Kalau hari ini kamu pulang tanpa dia mungkin itu cara semesta bilang kamu aman sekarang.”
Di luar, siang terus berjalan. Dan dari mata Dini, Alana terlihat seperti seseorang yang baru saja kalah tapi juga seseorang yang pelan-pelan belajar berdiri lagi.
Dini tahu, proses ini belum selesai.
Tapi setidaknya hari ini, Alana tidak menghadapinya sendirian.
Hari demi hari berlalu dengan langkah yang sama. Rumah sakit, lorong, bangku tunggu. Nama yang tak pernah terucap keras, tapi terus berputar di kepala Alana,Verdi.
Hari demi hari Alana berjalan dengan nama yang sama di kepalanya.
Satu minggu sudah berlalu sejak sosok itu muncul sekilas di lorong rumah sakit. Satu minggu ia mencari, bertanya pada sunyi, menatap wajah-wajah asing, dan pulang dengan perasaan yang tak pernah utuh.
Minggu pagi itu, Alana memilih taman kota.Langkahnya menyusuri jalan setapak yang basah oleh sisa embun. Anak-anak berlari, pasangan duduk berdampingan, dan burung-burung kecil hinggap tanpa beban. Dunia tampak baik-baik saja seolah tak peduli ada seseorang yang sedang kelelahan mencari jawaban.
Alana berhenti di dekat bangku kayu.
Duduk. Menarik napas panjang.Hari ini adalah hari terakhir.Bukan karena ia tak ingin tahu, tapi karena hatinya tak sanggup lagi menanggung tanya.
Matanya menyapu sekitar. Setiap sosok lelaki bertubuh tinggi membuat dadanya bergetar sesaat lalu reda saat kenyataan kembali datang.Bukan dia. Bukan lagi.
Alana berdiri, melanjutkan langkah. Ia melewati kolam kecil, pepohonan rindang, dan jalan yang berputar-putar seperti pencariannya yang tak kunjung berujung.Di bawah pohon besar, ia berhenti.
Jika Verdi memang ada di kota ini, mungkin inilah tempat terakhir ia berharap. Tempat orang datang bukan untuk bersembunyi, tapi untuk bernapas.Namun waktu terus bergerak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
