Sementara itu, jauh dari kontrakan Alana
Verdi berdiri di sebuah ruangan tua yang dipenuhi bau oli dan asap rokok yang telah lama meresap ke dinding. Lampu neon menggantung rendah, berkedip pelan.
Tempat ini dulu adalah markas kecil ruangan sempit tempat ia dan klub motor itu pernah menyebut diri mereka keluarga.
Beberapa motor terparkir berjajar di luar. Suaranya kini sunyi, tak lagi bising seperti dulu.Verdi berdiri di tengah ruangan, jaket hitamnya sudah ia lepas. Wajahnya masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya sembuh, namun sorot matanya jauh lebih tenang.
Di depannya, beberapa laki-laki duduk melingkar. Wajah-wajah yang dulu keras, kini terlihat letih.
“Semua sudah sampai di titik ini,” ucap salah satu dari mereka, suaranya berat.
“Kita nggak mau ada urusan lagi.”
Verdi mengangguk pelan.
“gue juga,” jawabnya.
“Apapun yang dulu terjadi gue nggak mau ada yang berlanjut. Raina udah nggak ada. Cukup sampai di sini.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan.
Laki-laki yang dulu memukulnya di rumah sakit berdiri. Tatapannya tak lagi penuh amarah hanya sisa penyesalan.
“Gue minta maaf,” katanya singkat.
“Emosi gue salah sasaran.”
Verdi menarik napas panjang. Dadanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
“Gue udah maafin,” ucapnya jujur.
“Kita semua pernah salah. Tapi jangan bawa kesalahan itu ke hidup orang lain.”
Verdi berdiri tegak. Tatapannya menyapu satu per satu wajah di depannya.
“Ada satu hal lagi,” ucapnya lirih tapi tegas.”
Ruangan kembali sunyi.
Salah satu dari mereka menyandarkan punggung ke dinding, yang lain menunduk. Nama itu masih terlalu berat untuk disebut.
“Waktu aku mutusin keluar dari klub ini, aku pergi bukan karena perempuan lain. Aku pergi karena hidup aku sudah salah arah.”
Verdi mengangkat wajahnya, matanya memerah.
“Aku nggak tau kalau setelah itu Raina nyari aku. Aku nggak tau dia kecelakaan. Aku nggak tau dia koma tiga tahun.”
Suaranya pecah di kalimat terakhir.
“Kalau aku tau mungkin aku nggak akan pergi sejauh itu. Tapi waktu aku tau, semuanya sudah terlambat.”
Ruangan terasa makin sempit.
“Raina nunggu,” katanya pelan.
“Sampai akhir.”
Verdi mengangguk, air mata jatuh tanpa ia tahan.Kali ini, saat ia melangkah keluar, langkahnya lebih berat.karena bukan cuma masa lalu yang ia tinggalkan, tapi juga orang yang paling ia cintai.
Malam itu berakhir tanpa bentakan, tanpa tinju, tanpa dendam.Mereka duduk melingkar tidak lagi sebagai musuh, tapi sebagai orang-orang yang pernah salah arah lalu sama-sama ingin berdamai.
Seseorang menepuk bahu Verdi pelan.
“Nggak ada yang perlu dibayar lagi,” ucapnya.“Kita semua kehilangan Raina tapi kita nggak mau kehilangan satu sama lain.”
Verdi menunduk, lalu mengangguk.
“Tiga tahun lalu aku pergi tanpa pamit,” katanya lirih.
“Hari ini aku minta maaf sebagai saudara.”
Satu per satu mereka berdiri.
Bukan pelukan kaku, tapi rangkulan hangat seperti keluarga yang lama tercerai.
Tidak ada lagi tatapan curiga.Tidak ada lagi amarah yang disimpan.Hanya rasa lega.Malam itu mereka tertawa kecil, mengenang hal-hal sepele yang dulu terasa besar.
perjalanan malam, kopi pahit, hujan di jalanan kosong.Raina disebut tanpa air mata bukan karena lupa, tapi karena akhirnya ikhlas.
Saat Verdi melangkah keluar,salah satu dari mereka berseru,
“Kalau suatu hari hidup berat lagi, jangan hilang. Pulang aja,kita masih di sini.”
Verdi tersenyum, senyum yang lelah tapi tulus.“Iya,” jawabnya.
“Kali ini aku tau kemana harus pulang.”
Dan sejak malam itu.
mereka bukan lagi bayangan masa lalu
melainkan saudara yang saling memaafkan dan memilih hidup dengan cara yang benar.
Verdi baru saja melangkah pergi ketika seorang laki-laki menghentikannya.
“Verdi,” panggilnya pelan.
Verdi menoleh. Dadanya mendadak sesak.
Laki-laki itu mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat rapi, ujungnya agak menguning, seolah sering dibuka lalu disimpan kembali.
“Ini surat dari Raina,” ucapnya.
“Dia nulis ini lama. Kami baru nemuin setelah dia pergi.”
Tangan Verdi gemetar saat menerima kertas itu.
Sunyi menelan mereka berdua, hanya suara angin malam yang menyusup pelan.
Akhirnya, Verdi membuka surat itu.
dengan tulisan tangan yang sedikit miring.
Verdi menutup surat itu perlahan.
Tangisnya pecah tanpa suara bukan karena kehilangan semata,
tapi karena akhirnya ia dilepaskan.
Abang Raina menepuk bahu Verdi sekali, singkat tapi penuh arti.
Verdi mengangguk, menatap langit malam yang gelap.
“Terima kasih Raina,” bisiknya.
Untuk pertama kalinya sejak lama,
dadanya tidak lagi dipenuhi rasa bersalah,
hanya duka yang pelan-pelan berubah menjadi doa.
Verdi melangkah keluar dari tempat itu sendirian.Motor-motor yang tadi berderet mulai meninggalkan lokasi, suara knalpot menjauh, menyisakan jalanan yang kembali sepi.
Di perjalanan pulang, Verdi menyelipkan surat Raina ke dalam jaketnya, tepat di dekat dada.
Bukan untuk disimpan sebagai luka, tapi sebagai pengingat
bahwa ia sudah diizinkan untuk melanjutkan hidup.Lampu-lampu kota menemaninya sepanjang jalan.Angin malam menerpa wajahnya, dingin, tapi terasa lebih jujur dari biasanya.
Sesampainya di rumah, Verdi duduk lama di teras.Ia menatap kosong, menghela napas panjang, lalu memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,tidurnya tidak dihantui mimpi buruk.
Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis
Jangan lupa follow vote and komen nya gays💙💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
