tidak ada pesta besar tidak ada panggung megah.Hanya taman kecil dan masjid,kursi berderet rapi,dan senyum gugup dua orang yang akhirnya memilih pulang satu sama lain.
Para tamu undangan sudah hadir
Faris duduk tegak di depan penghulu.
Tangannya dingin.Bukan karena takut
tapi karena sadar,ia sedang mengambil keputusan paling dewasa dalam hidupnya.
Dini duduk di balik hijab putih sederhana.Matanya menunduk,tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
Ijab yang Tidak Bergetar
“Saya terima nikahnya Dini binti—Suara Faris jelas,tidak gemetar,tidak ragu.Satu tarikan nafas.Satu kalimat. SAH.Tangis pecah pelan.Bukan histeris.Bukan dramatis.Tangis lega.
Alana menutup mulutnya, matanya berkaca.
Verdi menepuk bahu Faris pelan.
“selamat bro,” bisik Verdi.
Faris mengangguk.
Dini duduk di samping Faris dengan pipi merona, jemarinya tak henti meremas ujung kerudung. Bukan karena gugup pada akad yang sudah sah beberapa jam lalu, tapi karena Faris terus berbisik pelan.
“Kamu kalau senyum gitu bikin aku lupa mau jawab tamu.”
Dini menahan tawa.
“Kamu itu pengantin pria, bukan anak SMA yang baru jadian.”
Faris pura-pura menghela nafas panjang.
“Justru karena sudah halal, godaannya jadi bebas.”
Beberapa sepupu langsung bersorak, “Cieee… pengantin baru!”
Dini spontan menutup wajahnya dengan telapak tangan, sementara Faris malah tertawa lepas. Suasana makin riuh ketika teman-teman Dini datang membawa nampan berisi kue tradisional, tapi bukannya disajikan, mereka malah menyodorkannya tepat di depan wajah Faris.
“Suapin istrinya!” teriak salah satu dari mereka.
Faris menurut, tapi sengaja mengangkat kue itu tinggi-tinggi.
Dini harus sedikit berdiri untuk meraihnya.
Belum sempat menggigit, Faris menariknya lagi.Tamu-tamu pecah oleh tawa.Dini mendengus kesal sekaligus malu.
“Awas ya nanti malam aku balas.”
Faris menunduk sedikit, suaranya dipelankan tapi justru terdengar oleh orang terdekat.
“Aku tunggu.”
Jeritan heboh langsung pecah dari para sepupu. Ibu-ibu menutup mulut menahan tawa, bapak-bapak geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Di sudut halaman, anak-anak kecil berlarian meniup gelembung sabun. Beberapa gelembung beterbangan melewati kepala Dini dan Faris, memantulkan cahaya sore seperti bintang-bintang kecil.
Tanpa sadar Dini menatapnya, lalu berbisik lirih,
“Rasanya aneh ya… sekarang benar-benar jadi istrimu.”
Faris menatapnya lembut.
“Bukan aneh. Ini doa yang akhirnya sampai.”
Tak ada musik keras, hanya lantunan shalawat pelan dari pengeras suara masjid dekat rumah. Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa tenang, hangat, dan penuh berkah.
Seorang nenek mendekat, menepuk bahu Dini pelan.
“Bahagia itu bukan soal besar pestanya, Nak. Tapi siapa yang menggenggam
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
أدب المراهقين📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
