Delapan puluh empat

3 1 0
                                        


Suara motor berhenti satu per satu.

Halaman bangunan tua itu dipenuhi bayangan tubuh dan asap knalpot.

Jaket-jaket gelap.

Wajah-wajah yang dulu berjalan bersama Verdi dan pernah juga bersama Arkana.

Di dalam, lampu neon menyala redup.

Arkana tidak sendirian.

Di belakangnya berdiri tiga orang.

Mereka tidak berdiri sejajar.

Mereka berdiri berjeda jarak kecil yang menandakan,mereka pernah satu, lalu pecah.

Yang pertama, Bima tatapannya dingin, rahangnya penuh bekas luka.

Yang kedua, Nero diam, tangannya terus mengepal, seolah menahan diri.

Yang ketiga, Jaya wajahnya paling muda, tapi matanya paling lelah.

Empat orang,berhadapan dengan dua puluh.Dari barisan dua puluh itu, Alex melangkah maju.

“Jadi akhirnya lu muncul juga,” katanya rendah.

“Bawa sisa-sisa.”

Bima tersenyum miring.

“Masih suka hitung jumlah?”

“Kita dulu nggak pernah butuh itu.”

Alex menatap mereka satu per satu.

“Dulu.”

Arkana angkat suara.Tenang,datar.

“pisah karena malam itu,” katanya.

“Karena ada yang milih kabur.”

“Dan  ada yang tinggal.”

Alex menghela nafas kasar.

“Itu kecelakaan.”

Nero akhirnya bicara.Suaranya pelan, tapi berat.

“Kecelakaan itu berhenti jadi kecelakaan

saat kalian ninggalin satu orang sekarat di jalan.”

Arkan mengangkat wajah.

“Sebelum koma…”

suaranya bergetar tipis,

“kami dengar suara motor pergi.”

Tak satupun membantah.

Alex mengusap wajahnya.

“Terus Verdi?”

Arkana menatapnya tajam.

“Verdi cuma simbol,” katanya.

“Orang yang kalian lindungi.”

“Orang yang kalian biarin hidup normal.”

“Sementara adik gue…”

Ia terdiam sesaat.Lalu lanjut, lebih dingin.

“Mati.”

“Jadi Alana?” tanya Alex.

Hening,untuk pertama kalinya, Arkana ragu.

“Aku pakai Verdi buat balas dendam,” katanya jujur.

“Biar dia ngerasain ditinggal.”

“Biar dunia yang nyaman itu retak.”

Alex menyela keras,

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang