Keesokan paginya, Alana tetap datang ke warung seblak seperti biasa.
Hijabnya rapi, celemek terikat di pinggang, tangannya sigap menyiapkan pesanan.
Senyumnya ada tipis, sekadar formal.
Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, seolah minggu-minggu penuh kehilangan itu hanya ilusi.
Warung belum terlalu ramai.
Hanya suara air mendidih, panci beradu, dan obrolan ringan pelanggan pagi.
Sampai kemudian
🎸
Petikan gitar pelan terdengar.
Nada yang sangat familiar.
Bukan lagu viral.
Bukan lagu galau berisik.
Lagu sederhana yang dulu sering mengisi sore-sore di warung ini.
Alana membeku.Tangannya berhenti mengaduk kuah.Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa izin.Ia perlahan menoleh.
Di sudut warung, di tempat duduk favorit itu,seseorang duduk dengan gitar kesayangan di pangkuannya.Rambut sedikit lebih pendek.Wajah lebih tirus.Tatapan lebih dewasa.
Ia bernyanyi pelan, hampir seperti berbisik.Bukan untuk pelanggan.
Bukan untuk siapapun.Hanya untuk satu orang.
Suara itu membuat dada Alana terasa sesak.Bukan karena marah.Bukan karena benci.Tapi karena rindu yang terlalu lama dipendam.Beberapa pelanggan mulai saling pandang.
“Eh… itu kan mas gitaran dulu?” “Balik lagi?” “Warung seblaknya hidup lagi ya”
Verdi berhenti bernyanyi saat tatapannya bertemu dengan mata Alana.Tidak ada senyum lebar.Tidak ada langkah mendekat.Hanya tatapan lama
penuh penyesalan, penuh harap, dan penuh keberanian yang akhirnya terkumpul.
Alana menelan ludah.Ia memalingkan wajah, kembali bekerja seolah tak terjadi apa-apa.Namun jari-jarinya gemetar.Verdi memahami itu.Ia tidak memaksa.
Ia hanya berkata pelan, cukup untuk didengar Alana.
“Gue cuma mau duduk di sini.
Kalau Alana keberatan gue pergi.”
Alana diam.
Beberapa detik berlalu.
Lalu dengan suara datar, tanpa menoleh, ia menjawab:
“gue ga keberatan sama sekali,
lo pelanggan kan.”
Kalimat itu sederhana.Dingin.Berjarak.Tapi bagi Verdi itu bukan penolakan.
Itu kesempatan pertama.
Verdi kembali memetik gitar.
Kali ini nadanya lebih pelan, lebih dalam.
Beberapa pelanggan yang duduk santai
Salah satu pelanggan Gen Z—yang dari tadi live langsung mengarahkan kamera ke sudut warung.
📱 LIVE INSTAGRAM ON
“Guys sumpah ini warung seblak vibes-nya beda 😭🎸”
Verdi mulai bernyanyi. Suaranya tidak keras, tapi jujur.Ia tidak menatap kamera. Tidak mencari sorotan.
Tatapannya justru jatuh tanpa sengaja ke arah Alana.
Teringat lagi hal yang buat hatiku
Jatuh cinta dengan hebatnya padamu
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
