Di tengah kesibukan warung, beberapa pelanggan dari kalangan Gen Z terlihat asyik dengan ponsel mereka. Ada yang melakukan siaran langsung, ada juga yang sibuk berfoto-foto dengan seblak mereka, lalu mempostingnya di media sosial.
"Guys, gue lagi di warung seblak terenak di kota ini! Liat nih, seblaknya mantul banget!" kata salah satu pelanggan sambil menunjuk mangkuk seblaknya ke kamera ponselnya.
Temannya ikut menimpali, "Gue udah langganan di sini, kalian wajib coba! Beneran gak nyesel!"
Dini yang melihat kejadian itu tersenyum. "Al, kita makin terkenal nih. Banyak yang nge-post di sosmed."
Alana yang masih sibuk mengaduk seblak hanya menanggapi santai. "Bagus dong, Din. Gratis promosi!"
Beberapa pelanggan juga sibuk mengambil foto makanan mereka dari berbagai sudut. Ada yang foto aesthetic dengan efek blur di latar belakang, ada juga yang foto dengan ekspresi puas sambil memegang sendok berisi seblak pedas.
Tak lama kemudian, salah satu karyawan datang dengan wajah senang. "Kak, kita lagi viral kek nya! Banyak yang komen katanya mau mampir ke sini!"
Dini langsung mengambil ponselnya dan mengecek sendiri. "Wah, beneran! Udah banyak yang nonton videonya! Bisa-bisa nanti makin rame."
Alana hanya tersenyum kecil sambil melanjutkan pekerjaannya. "Alhamdulillah, semoga berkah. Yang penting kita tetap jaga rasa dan pelayanan."
Dengan semakin banyaknya pelanggan yang datang, warung seblak mereka semakin dikenal. Dan tanpa mereka sadari, warung kecil mereka perlahan mulai menjadi tempat hits di kalangan anak muda.
Di tengah kesibukan warung yang semakin ramai, tiba-tiba terdengar suara perdebatan kecil dari salah satu meja di sudut ruangan. Alana dan Dini yang sedang sibuk melayani pelanggan sekilas melirik ke arah sumber suara.
Seorang cewek terlihat manyun sambil melipat tangan di dada, sedangkan cowok di depannya tampak kebingungan.
"Ayolah, coba dikit aja! Masa pacar gue gak mau makan seblak di tempat favorit gue?" rengek si cewek sambil mendorong mangkuk seblak ke arah cowoknya.
Si cowok menggeleng cepat. "Gue gak bisa makan pedes, beb. perut gue sensitif."
Si cewek menghela napas panjang lalu memelototi pacarnya. "Tapi ini seblak favorit gue! Lo harus cobain biar kita makin kompak!"
Alana dan Dini yang mendengar itu langsung menahan tawa. Salah satu karyawan yang berdiri di dekat kasir juga ikut berbisik ke Dini, "Wah, drama lagi, Kak."
Si cowok masih bersikeras menolak. "Bukan gak mau, tapi gue takut langsung sakit perut."
Si cewek makin kesal. "Ya ampun, cobain dikit aja! Gue gak bakal mesanin yang pedas kok."
Akhirnya, karena tak ingin membuat pacarnya semakin marah, si cowok mengambil sendok kecil dan mencelupkan ke dalam kuah seblak. Dengan wajah pasrah, dia akhirnya mencicipi sedikit.
Tak sampai dua detik, wajahnya langsung berubah aneh, dan dia buru-buru mengambil minum. "Astaga! Ini bukan makanan ya!"
Si cewek malah tertawa puas. "Tuh kan! Gak seburuk yang lo pikirkan, kan,enak kan?"
Dini akhirnya tak bisa menahan diri dan tertawa kecil. "Kejadian unik tiap hari, Al. Gak pernah sepi drama."
Alana ikut tersenyum. "Iya, Din. Warung seblak ini bukan cuma tempat makan, tapi juga tempat orang berantem dan baikan."
Meskipun sibuk, momen-momen lucu seperti ini selalu berhasil membuat suasana warung semakin hidup.
Si cewek masih belum puas melihat pacarnya hanya mencicipi sedikit. Dengan penuh semangat, dia kembali mendorong mangkuk seblak ke arah cowoknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Ficțiune adolescenți📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
